"Ya Tuhan, aku menjilat ludahku sendiri hanya karena nafsu. Aku tidak ingin mengutarakannya terlebih dulu, karena aku wanita. Tetapi, seperti yang sudah-sudah dia bisa saja tiba-tiba menikah. Kamu tahu seniorku? Yang berhijab syar'i itu. Tiba-tiba, datang kepadaku undangan, dia menikah dengan lelaki syar'i pula, yang tetiba melamarnya, dan terjadilah semudah itu pernikahan. Aku ingin tenang dan menunggu, tapi aku takut lelaki itu pun semacam itu. Bagaimana kalau sebelum aku menyatakan perasaanku, dia sudah menikah lebih dulu? Maka, aku putuskan ketakutanku. Aku bertanya kepadanya, haruskah aku mengharapkannya."
"Dan ia menjawab dengan jawaban yang membuatku semakin jatuh cinta kepadanya. 'Jangan berharap. Berharaplah kepada Allah.' Aku membenarkannya, karena seperti yang sudah kualami sendiri, resiko berhubungan dengan sesama manusia adalah kekecewaan. Semua manusia pasti akan dikecewakan atau mengecewakan manusia lainnya, jadi jangan percaya kepada manusia, percayalah kepada Allah. Dan jawabannya menjatuhkan cintaku lebih dalam kepada hatinya."
"Aku begitu menyenangkan, bukan? Kau saja bisa menyebut jatuh cintamu itu cobaan dariku. Lucu dan cerdas benar rupanya kau itu. Itulah bentuk cintaku kepadamu. Untuk membuat hidupmu begitu seru, begitu kamu menyebutnya. Aku sudah bilang kan kalau memang dia adalah pilihanku untukmu, akan aku jaga benar dia, sayang. Kalau memang bukan, aku akan membuat jatuh cinta-jatuh cinta lainnya untukmu. Kamu hanya perlu menikmati prosesnya. Begitu mudah, bukan?
"Nah, itu benar kalian berdua sepemikiran ya. Aku buat begitu untuk menjaga sementara perasaanmu kepadanya. Kamu ditolak kan kata temanmu? Tapi, tidak. Justru kalau kamu setuju dengan mulutnya yang mengatakan untuk berharap kepadaku, justru kamu diterimanya dengan lapang dada atas izinku. Sangat menyenangkan bermain denganmu, sayang. Sekarang sudah setiap hari kau memelukku. Aku merasa begitu disanjung olehmu, lima waktu sudah kau sampaikan rasa cintamu kepadaku. Aku akan membahagiakanmu, jangan sampai kau lupa atau ragu. Aku akan membantumu untuk mencintaiku setiap harinya.
"Dan apakah ini bentuk cobaan mu ya Tuhan? Tehadap mimpi dan rencana-rencanaku. Kalau memang iya, terima kasih sudah menjauhkannya dariku, agar mimpiku terjaga dan dapat berjalan seperti seharusnya."
"Lagi-lagi kau membuatku jatuh cinta kepadamu, sayangku. Kamu wanita sempurna yang hanya perlu aku untuk berbahagia. Benar sudah aku menjaga mimpimu, dan kamu tahu bahwa jatuh cintamu adalah cobaan dariku. Aku menjauhkannya darimu, untuk mendekatkan mimpimu untukmu."
"Ya Tuhan, ya Cintaku, aku sudah bisa melihat tidak ada solusi bagi sepasang insan yang saling jatuh cinta selain menikah. Apa yang kurasakan kepadanya berbeda benar, sebelumnya aku sama sekali menolak menikah, karena begitu pengalaman yang kau ajarkan kepadaku. Pernikahan dimataku hanya perhiasan yang bisa rusak, hilang, ataupun berkarat. Dengan aku hidup dan mendengar juga melihat kenyataan dari pernikahan, sesungguhnya pernikahan adalah beribadah kepadamu. Sungguh, aku menemukan arti yang sebenar-benarnya. Dengan menikah aku tidak akan berzinah, dengan menikah aku akan menimbun pahala melalui suamiku, dengan menikah raga dan jiwaku dibahagiakan oleh cinta."
"Mendengar kata-katamu itu, aku begitu tenang, pesanku tersampaikan sudah kepadamu. Jadi, tidak tega aku terus mengujimu, tapi itu untukmu juga. Agar kau menjadi semakin berharga dalam hidupmu, juga menjadi semakin menghargai hidupmu dan orang-orang disekelilingmu. Pelukanku tak akan henti-hentinya aku persembahkan untukmu. Konsistenlah dalam mencintaiku. Maka, selamanya aku untukmu."
28 Januari 2016
10.59
No comments:
Post a Comment