Thursday, January 21, 2016

Dialog Empat


“Selamat malam, Tuhan. Sekarang aku merasa menjadi orang yang sangat kuat dan yang paling berani yang ada di atas muka bumimu. Apakah kau tahu kenapa? Karena, aku sudah bisa menghadapi ketakutanku sendiri, menghadapi orang-orang yang menjahatiku dengan ketenangan diri. Dan tanpa ada rasa sakit hati ataupun marah kepadanya. Aku merasa begitu menjadi seseorang yang suci. Bolehkah aku pamer sedikit kepadamu? Supaya kamu tahu bahwa aku tidak berdiam diri dan tidak berkembang hati pula pikiranku. Dan itu semua teruntuk kamu yang aku sangat cintai. Aku persembahkan ini kebesaran hatiku kepada-Mu kecintaanku.”

“Wah, wah, kamu hebat sekali sekarang. Aku sangat bangga, sini aku peluk dulu supaya meringankan sedikit beban di hatimu, juga di pelupuk matamu yang tak hentinya berurai air mata itu. Tak apa kamu pamer kepadaku dengan niat baikmu ingin membahagiakanku. Aku senang sekali mendengarnya. Lalu, mereka bagaimana? Apa mereka meledek-ledekmu lagi? Apa mereka mengejekmu? Atau mereka memojokkanmu?”

“Ya, Tuhan, aku akan bercerita ya barang sedikit saja. Ketika, aku duduk sendiri di tempat sunyi dan kelilingi oleh mereka yang membenciku. Aku merasa menjadi orang yang paling tidak tahu malu dan orang yang menjijikan, aku merasa begitu rendah. Rasanya, aku ingin punya ilmu menghilang sekejap saja, sehingga para ia yang membenciku tidak muak melihat wajahku yang mereka tidak suka.”

“Tuhan, kau tahu kan aku paling tidak suka cari masalah, tapi kenapa sepertinya masalah ingin sekali menyatukan dirinya denganku Aku yang tidak punya salah dan tidak tahu apa masalah mereka kepadaku pun, rela untuk dihujat paksa, hanya karena aku tidak suka berkonflik. Lalu, mereka semakin menjadi-jadi dengan tanpa aku bertindak apa-apa. Aku bahkan rela untuk menundukkan wajahku di depan mereka, agar mereka tidak bertambah amarahnya hanya karena melihat wajahku muncul di hadapan. Lalu, sampailah lelahku, aku sudah tak mau lagi menundukkan kepalaku kepada orang-orang yang tak beralasan mencemoohku, aku akan menatap mata mereka baik-baik, dan tersenyum. Nikmati sajalah, toh aku menundukkan wajahku di depan mereka saja tetap membuat mereka jengkel, lalu mereka mau aku bagaimana? Mati dan masuk ke dalam kuburku sendiri? Tidakkah itu mengejekmu, ya Tuhanku? Mereka berani memperlakukan makhluk ciptaanmu sesukanya. Aku juga hidup kan, Tuhan?”

“Ya sudah, sudah. Aku sangat mengerti kedalaman hatimu itu tanpa kau jelaskan serinci itu. Kamu sudah besar rupanya, sepertinya baru kemarin kau berlarian di taman dekat rumahmu dan bersepeda berkeliling bersama teman-temanmu. Tahukah kamu? Orang hebat tidak diciptakan dari kemudahan, kesenangan, atau kenyamanan, tetapi mereka itu dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata. Jadilah, kamu tahu siapa itu dirimu? Bersyukurlah terus kepadaku, kau sudah kubangun sedemikian itu. Oh, cepat besar sekali kamu, tak lihatkah aku terharu, air mataku menetes begini karena bahagia melihatmu.”

“Ampuni segala dosa-dosa yang pernah aku lakukan, Tuhan. Aku mohon kepadamu, aku mencintaimu. Aku tak mau lagi dirundung dosa yang dulu. Terima taubatku, Tuhan. Aku merangkak ke arahmu. Aku akan menciumi pintu rumahmu. Aku akan hidup untukmu. Aku mohonkan air mata darahku terurai agar, mudah-mudahan, itu bisa membayar dosaku, meski aku tahu itu tidak akan membayar sedikitpun dosaku kepadamu. Tapi, aku mohon ya Tuhan, lakukan apapun yang kau mau kepadaku, asal maafkan aku, Tuhan. Hapuskan dosaku yang lalu, apapun itu.”

“Kau ini benar-benar yah, aku kan sudah bilang, kalau aku ini tidak akan menyedihkanmu tanpa maksud baik untukmu juga. Jadi, sudah tahu pula kau punya dosa, ya? Sini, sini, kukecup kamu, aku sudah memaafkanmu dari jauh-jauh hari, sayang. Silah mampir dulu sini di pelataran rumahku. Aku akan sajikan apa saja yang kau mau. Karena, begitu hebat sudah kau berjalan jauh untuk mencapaiku, sampai tersesat dan kehilangan arahmu, dan seperti biasa kau menangis begitu lama. Tapi, benar kan kataku, setelah tangisan-tangisanmu itu, otak dan hatimu berseru untuk kembali berjalan, meski itu kerikil batu menyisakan darah di kakimu. Tenang, jangan lagi menangis, kau sudah sampai ke pelataran rumahku. Jadi, sekarang nikmatilah dulu bebasmu itu di depan rumahku. Bermainlah dulu sampai datang bosanmu, nikmatilah dulu kehadiran kawan-kawanmu yang terkadang pasti akan merebut mainan atau menginjak kakimu, lalu menangislah kamu sebanyak-banyaknya, berbahagia dan tertawalah kamu untuk salam berpisah kepada kedua orang tuamu, dan temukanlah laki-laki baik untuk beribadah kepadaku sepanjang sisa hidupmu.”

“Setelah semua itu, ketuk pintu rumahku, ucapkan salam kepadaku, dan ketika aku buka pintu, rengkuhlah aku seperti sebahagian dari dirimu. Tatap aku dalam-dalam dan bersiaplah engkau bersamakan aku di dalam rumah tak seberapa, yang hanya ada bahagia untukmu.”


21 Januari 2016

17.08

No comments:

Post a Comment