“Ya,
Tuhan sudah banyak juga yang kau beri lihat aku. Yang terpahit dari dunia, baik
wanita maupun lelaki. Sampai aku berani bertanya kepada sesama manusia. ‘Apa
kamu sudah pernah melihat yang terburuk terjadi dalam diri wanita?’. Terlebih
itu laki-laki, aku banyak bersilaturahmi dengan anak laki-laki. Hampir
sekotornya mereka aku tahu.”
“Ya. Aku sengaja lakukan itu.
Ternyata, aku sadari bahwa kau lebih dari sekedar kertas kosong dari yang aku
kira. Jadi, aku tak mau kau terperangkap dalam yang terpahit dari dunia. Aku
hadirkan mereka yang terpahit untuk kau rasakan. Jadilah banyak air matamu yang
tertuang. Maafkan aku, tapi itu untukmu juga. Tapi, lihat kan? Dengan banyak
pahit yang kau alami, kau jadi menemukan cintaku. Kau jadi memelukku, dan
bahkan menemukan arti-arti kitabku dalam hidupmu. Aku meyakinkanmu, bahwa
kehidupan yang aku buat ini bukan hanya sekedar, tetapi penuh arti. Arti yang
akhirnya kau temukan sendiri. Percayalah, dengan kau menemukannya sendiri, itu
akan menjadi lebih kekal di hatimu.”
“Ya,
Tuhanku, bertambah setiap hari cintaku padamu. Aku bertambah percaya bahwa tak
seperdetik pun kau memalingkan wajahmu dariku. Aku bersyukur dengan semua air
mata yang kau beri, itu akan memanusiakanku. Tuhan, tapi apa boleh aku
mengintip sedikit apa yang kau maksudkan dengan keresahan hatiku beserta
kekosongan di dalamnya.
“Jadi ini persoalan hatimu?”
“Ya,
Tuhan. Aku banyak mengenal laki-laki yang kau ciptakan, beragam sifat dan
tingkah laku sudah hampir di luar kepalaku. Dan tak satupun dari mereka mampu
meyakinkanku bahwa mereka akan selamanya bersama sampai kau menghentikan
waktuku. Semua laki-laki di mataku hanya akan membuatku sementara, dan seketika
itu juga aku memalingkan wajahku dari semua laki-laki. Tapi, kau tahu belum
lama aku bertemu teman lamaku. Bagaimana menurutmu? Dia bukan hanya
meyakinkanku. Tetapi, tanpa ia sadari ia mengantarkanku menemuimu. Tanpa ia
sadari, ia telah merubahku. Tanpa ia sadari, ia telah menegurku dan membuatku
malu. Baru kali ini aku merasa tidak pantas dengan laki-laki, karena imanku.
Tanpa banyak kata dari mulutnya, tanpa banyak wejangan tak perlu, atau kata
sayang dan memintaku berubah, ia mampu menegurku dengan matanya. Dan aku
berbincang mesra dengan kata-kata dari matanya. Sungguh indah dan bersih,
Tuhan. Ini yang aku mau. Dari banyak laki-laki. Dia yang berbicara tanpa
bersuara dan menyentuh imanku. Tuhan, aku mau dia di dalam hidupku. Apa boleh?
Apa dia yang terbaik untukku?”
“Bagaimana ya aku menjawabnya. Sebenarnya, ini sangat rahasia dan tidak boleh aku bocorkan. Tapi, aku mencintaimu yang mencintaiku. Barangkali, ini sedikit saja yang perlu kau tahu. Bahwa, teruslah mendoakannya lewat aku. Percayalah, setiap doamu akan sampai ke dalam hatinya. Bukankah kamu tahu sendiri, aku ini selalu punya banyak kejutan. Jadi, kau nikmati saja, sayang. Tekuni ibadahmu, aku tahu kamu sedang berusaha mencapai lima waktumu, juga mengurangi rokokmu yang bau itu. Demi dia kah? Ayolah, dia manusia, kamu lupa? Bahwa, kamu sudah memutuskan untuk tidak percaya manusia dan hanya percaya padaku? Dia kuberi hati, dan aku yang memegang kendali. Lakukanlah kebaikan-kebaikan itu untukku. Rayulah aku. Percayalah, kamu merayuku sedikit saja, tersanjungku banyak. Aku yang membolak-balikan hati manusia. Apa kau lupa? Aku tahu kau sangat tahu hal itu. Kau sudah bercerita banyak padaku di setiap doamu. Aku selalu di dalam dirimu. Tenang saja, tidak akan sedikitpun terlewat dari pandanganku.”
“Ya.
Tuhan. Aku mengerti. Aku akan melakukannya seperti keinginanmu, betapa cintanya
aku kepadamu sampai-sampai tak sampai hati aku mengecewakanmu. Oh iya, Tuhan,
boleh aku bercerita sedikit? Sepertinya laki-laki itu, berkebalikan dariku,
akan sangat malu memilikiku dalam hidupnya. Aku yang begitu sederhana, dan
banyak kekurangan. Ada banyak sekali wanita indah di luar sana. Dan aku tak
seberapa. Aku takut mempermalukannya.”
“Terus saja dengan kamu yang merendahkan dirimu sendiri. Kamu yang semakin dalam mencintaku, adalah semakin terang cahaya di wajahmu. Jangan takutkan itu. Kamu kan sudah tahu, kalau aku akan menyampaikan kebenaran ke telinga siapapun dengan cara yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan. Kamu sudah tahu, jadi tidak usah ragu lagi.”
“Tuhan,
aku akan teruskan ini. Aku akan mencintanya dengan cara yang kau ajarkan. Aku
akan sabar dan ikhlas, karena sabar dan ikhlas adalah Islam, benar kan? Semoga
dia benar yang aku cari selama ini. Tak disangka dia yang aku cari selama ini
berdiri sangat dekat denganku. Aku begitu mengagumi kejutan-kejutan milikmu.
Lagi, aku bertambah mencintaimu, Allah, Tuhanku.”
22.14
05 Januari 2016
No comments:
Post a Comment