Saturday, January 16, 2016

Dialog Dua


“Ya, Tuhan sudah banyak juga yang kau beri lihat aku. Yang terpahit dari dunia, baik wanita maupun lelaki. Sampai aku berani bertanya kepada sesama manusia. ‘Apa kamu sudah pernah melihat yang terburuk terjadi dalam diri wanita?’. Terlebih itu laki-laki, aku banyak bersilaturahmi dengan anak laki-laki. Hampir sekotornya mereka aku tahu.”

“Ya. Aku sengaja lakukan itu. Ternyata, aku sadari bahwa kau lebih dari sekedar kertas kosong dari yang aku kira. Jadi, aku tak mau kau terperangkap dalam yang terpahit dari dunia. Aku hadirkan mereka yang terpahit untuk kau rasakan. Jadilah banyak air matamu yang tertuang. Maafkan aku, tapi itu untukmu juga. Tapi, lihat kan? Dengan banyak pahit yang kau alami, kau jadi menemukan cintaku. Kau jadi memelukku, dan bahkan menemukan arti-arti kitabku dalam hidupmu. Aku meyakinkanmu, bahwa kehidupan yang aku buat ini bukan hanya sekedar, tetapi penuh arti. Arti yang akhirnya kau temukan sendiri. Percayalah, dengan kau menemukannya sendiri, itu akan menjadi lebih kekal di hatimu.”

“Ya, Tuhanku, bertambah setiap hari cintaku padamu. Aku bertambah percaya bahwa tak seperdetik pun kau memalingkan wajahmu dariku. Aku bersyukur dengan semua air mata yang kau beri, itu akan memanusiakanku. Tuhan, tapi apa boleh aku mengintip sedikit apa yang kau maksudkan dengan keresahan hatiku beserta kekosongan di dalamnya.

“Jadi ini persoalan hatimu?”

“Ya, Tuhan. Aku banyak mengenal laki-laki yang kau ciptakan, beragam sifat dan tingkah laku sudah hampir di luar kepalaku. Dan tak satupun dari mereka mampu meyakinkanku bahwa mereka akan selamanya bersama sampai kau menghentikan waktuku. Semua laki-laki di mataku hanya akan membuatku sementara, dan seketika itu juga aku memalingkan wajahku dari semua laki-laki. Tapi, kau tahu belum lama aku bertemu teman lamaku. Bagaimana menurutmu? Dia bukan hanya meyakinkanku. Tetapi, tanpa ia sadari ia mengantarkanku menemuimu. Tanpa ia sadari, ia telah merubahku. Tanpa ia sadari, ia telah menegurku dan membuatku malu. Baru kali ini aku merasa tidak pantas dengan laki-laki, karena imanku. Tanpa banyak kata dari mulutnya, tanpa banyak wejangan tak perlu, atau kata sayang dan memintaku berubah, ia mampu menegurku dengan matanya. Dan aku berbincang mesra dengan kata-kata dari matanya. Sungguh indah dan bersih, Tuhan. Ini yang aku mau. Dari banyak laki-laki. Dia yang berbicara tanpa bersuara dan menyentuh imanku. Tuhan, aku mau dia di dalam hidupku. Apa boleh? Apa dia yang terbaik untukku?”

“Bagaimana ya aku menjawabnya. Sebenarnya, ini sangat rahasia dan tidak boleh aku bocorkan. Tapi, aku mencintaimu yang mencintaiku. Barangkali, ini sedikit saja yang perlu kau tahu. Bahwa, teruslah mendoakannya lewat aku. Percayalah, setiap doamu akan sampai ke dalam hatinya. Bukankah kamu tahu sendiri, aku ini selalu punya banyak kejutan. Jadi, kau nikmati saja, sayang. Tekuni ibadahmu, aku tahu kamu sedang berusaha mencapai lima waktumu, juga mengurangi rokokmu yang bau itu. Demi dia kah? Ayolah, dia manusia, kamu lupa? Bahwa, kamu sudah memutuskan untuk tidak percaya manusia dan hanya percaya padaku? Dia kuberi hati, dan aku yang memegang kendali. Lakukanlah kebaikan-kebaikan itu untukku. Rayulah aku. Percayalah, kamu merayuku sedikit saja, tersanjungku banyak. Aku yang membolak-balikan hati manusia. Apa kau lupa? Aku tahu kau sangat tahu hal itu. Kau sudah bercerita banyak padaku di setiap doamu. Aku selalu di dalam dirimu. Tenang saja, tidak akan sedikitpun terlewat dari pandanganku.”

“Ya. Tuhan. Aku mengerti. Aku akan melakukannya seperti keinginanmu, betapa cintanya aku kepadamu sampai-sampai tak sampai hati aku mengecewakanmu. Oh iya, Tuhan, boleh aku bercerita sedikit? Sepertinya laki-laki itu, berkebalikan dariku, akan sangat malu memilikiku dalam hidupnya. Aku yang begitu sederhana, dan banyak kekurangan. Ada banyak sekali wanita indah di luar sana. Dan aku tak seberapa. Aku takut mempermalukannya.”

“Terus saja dengan kamu yang merendahkan dirimu sendiri. Kamu yang semakin dalam mencintaku, adalah semakin terang cahaya di wajahmu. Jangan takutkan itu. Kamu kan sudah tahu, kalau aku akan menyampaikan kebenaran ke telinga siapapun dengan cara yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan. Kamu sudah tahu, jadi tidak usah ragu lagi.”

“Tuhan, aku akan teruskan ini. Aku akan mencintanya dengan cara yang kau ajarkan. Aku akan sabar dan ikhlas, karena sabar dan ikhlas adalah Islam, benar kan? Semoga dia benar yang aku cari selama ini. Tak disangka dia yang aku cari selama ini berdiri sangat dekat denganku. Aku begitu mengagumi kejutan-kejutan milikmu. Lagi, aku bertambah mencintaimu, Allah, Tuhanku.”


22.14

05 Januari 2016

No comments:

Post a Comment