Friday, February 12, 2016

Dialog Delapan



“Ya Tuhan, jangan biarkan aku menjadi gila, karena tak satu pun tempat aku berpegangan di dunia. Lagi, untuk beribu kalinya aku dibuat gila oleh orang tuaku sendiri. Darah dagingku, yang aku pertaruhkan seluruh hidupku hanya untuk mereka berbahagia. Aku begitu ingin di peluk mereka semenjak aku mulai mengerti bahwa tak sedikitpun mereka mencoba untuk melihat keadaan lahir dan batinku, mereka tak peduli. Tak mereka besarkan hatiku barang sedikit.”
“Ya, aku tahu, teruskan dulu pertumpahan darah di batinmu. Aku mendengarkanmu.”
“Hal buruk sedari kecil sudah kualami, bahkan sampai aku menikmati. Hujatan dan pukulan bukan kekerasan tetapi kegiatan sehari-hari  mereka untuk membesarkanku. Ikat pinggang, sapu lidi, barang pecah belah, apapun yang ada di sekitar mereka adalah perlengkapan untuk menumbuhkanku menjadi seperti ini. Pun mereka menyerang hatiku, sumpah serapah mengalir tanpa ragu. Ayah, Ibu, tahukah kamu apapun yang keluar dari mulutmu itu adalah doa untukku.”
“Bahkan, aku tak bisa mengingat masa kecilku barang sedikit. Ketika, berkumpul bersama teman sekolah dulu, tak ada yang bisa kuingat, mereka bercerita begitu semangatnya, tentang aku yang dulu, tentang keceriaan dan betapa aku yang begitu menyenangkan. Aku lupa.
“Sempat terpikir mungkin aku memiliki penyakit kehilangan memori dan aku memotivasi diri mungkin aku hanya memiliki kesulitan untuk mengingat sesuatu. Tetapi, kalau memang benar begitu, kenapa begitu kental ingatan tentang aku yang baru berumur empat tahun, di kamar ayah ibuku, aku dihujami hujatan-hujatan dan doa tak baik dari kedua orang tuaku, aku disiksa oleh ayahku sendiri dengan ikat pinggang berkepala besi miliknya. Aku hanya meraung dan menangis. Habis air mataku, tersisa sakit di sekujur badanku, dan aku tetap hidup.”
“Dan lagi, setelah dua puluh satu tahun aku hidup, aku melihat kembali anak perempuan kecil menangis tersedu di pojokkan kamarku. Hati dan badannya terkoyak. Ia yang menangis sampai bengkak matanya dan tak bisa melihat apa-apa, karena pesakitan dan sumpah jahat dari kedua orang tuanya. Sebentar-sebentar ia menangisi hidupnya yang berupa kematian, sebentar-sebentar ia tertawa dengan permainan dunia ini yang meninggalkannya sendirian.
“Anak kecil itu tersekat nafasnya, ia memukul dadanya sekencang yang ia bisa, ia pukuli kepalanya untuk mati, katanya. Tak segan ia memukuli badannya sendiri, ia merasa bersalah, karena keberadaannya, kedua orangtuanya harus berdosa karena menghujaminya pesakitan, ia selalu berdoa apapun yang dilakukan orang tuanya, mereka akan tetap bersama-sama masuk surga, ia babak belur tak apa. Begitu cinta miliknya kepada Ayah Ibunya.
“Tuhan? Kenapa kau diam saja? Apa kau mendengarkanku?”
“Aku sedang menangis sayang. Aku menangis bersamamu. Ini adalah caraku membesarkanmu, maafkan aku, sungguh begitu nyeri hatiku kalau kau menceritakan kembali hidupmu sedari dulu. Kamu selalu merasa sendirian kan? Sayang, seandainya kamu tahu, aku menangis bersamamu kala itu, dan disetiap kala yang lainnya kamu menangis. Aku begitu mencintamu, sehingga tak segan cobaan bertubi menghampirimu, tetapi kamu percayakan kepadaku, itu semua aku lakukan karena alasan. Alasan yang tak bisa aku hamparkan kepadamu. Tidak boleh. Aku maha adil, dan inilah caraku. Asal kamu percaya aku. Tak pernah sedikitpun aku bermaksud menyakiti lahir dan batinmu.”
“Hanya ingin aku dengar mereka bertanya barang sedikit tentang aku, ‘Bagaimana keadaan di kampus? Bagaimana kabarmu? Kenapa murung mukamu? Ada masalah?’. Aku tak apa dihujami pesakitan-pesakitan dari mereka, tetapi setidaknya ada sedikit dari mereka yang menghargai keberadaanku. Tuhan, aku mohon, aku tidak mau menjadi gila. Aku mau waras dan hidup. Aku melihat betapa indah kehidupan milikmu, dan aku tidak mau kehilangannya karena aku gila.”
“Coba Tuhan lihat, anak kecil itu sudah tumbuh besar. Banyak penderitaannya yang ia hadapi tanpa sesiapa. Sahabat, Cinta, Keluarga, semuanya manusia yang pada dasarnya hidup untuk mengecewakan dan dikecewakan, dan darimana lagi kepercayaan akan bertumbuh? Dan ia yang sekarang hanya memilikimu, untuk digenggamnya, dipeluknya, diciumnya, disandarnya, dan dicintainya.”
“Dulu, anak itu adalah Ketua OSIS SMP dan SMA dulu, anak itu adalah PASKIBRAKA, anak itu adalah Ranking satu selama bersekolah, Anak itu adalah Pemenang di setiap kompetisi menari, berpidato bahasa inggris, pramuka, pembawa acara bahasa inggris. Anak adalah Brand Ambassador Provider terkenal di Indonesia, Anak itu berjualan kerupuk di sekolah sejak sekolah dasar untuk uang sakunya sendiri, anak itu mengajar privat temannya yang nilainya kurang dan uangnya untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Anak itu berjualan headset sepuluh ribuan di sekolah menengah pertamanya, Anak itu mengajar di tempat les sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama karena kemampuan berbahasa inggris yang ia miliki. Anak itu mulai masuk ke dunia entertainer di bangku Sekolah Menengah Atas, ia mencari uang dari sana untuk uang saku. Selama bersekolah ia tidak pernah meminta uang bayaran kepada orang tuanya, ia menerima beasiswa penuh, pun sekarang setelah ia berkuliah, ia tidak pernah merepotkan orang tuanya dengan persoalan uang. Karena, ia sangat tahu bahwa seringkali pemicu masalah di dalam keluarganya adalah Uang. Uang begitu menakutkannya.”
“Ia baru saja lulus dari Universitas dengan Cum Laude dan dalam jangka waktu 3,5 tahun. Ia memiliki banyak sekali teman. Ia terkenal ramah, berprestasi, dan menyenangkan. Semua memujinya, semua menyanjungnya, dan itu terkecuali orang tuanya. ‘Lulus itu bukan hal besar, bagus kalau tahu diri orang tuanya miskin, jadi bisa bantu cari uang lebih besar kan?’ ‘Anak brengsek, sok pinter. Apa guna lo pinter, hah? Gak ada gunanya!’ ‘Hidup lo gak bakal sukses kalau gak ada gue!’ ‘Apa bagusnya lo lulus cepet? Apa gunanya lo cum laude?’ ‘Gantian karena lo udah lulus, sekarang uang sekolah adik lo adalah tanggungan lo.’ ‘Sekarang lo berhenti kemanapun selain kerja! Cari uang! Udah waktunya lo cari uang yang banyak.’ ‘Lo itu selama ini cuma bisa nyusahin orang tua. Makanya, cepet cari uang.’
“Oh, Tuhanku, aku menangis menciumi bumimu, badan lemas tak bersisa sedikitpun gerak. Anak itu baru berumur dua puluh satu tahun, dan selama ini ia selalu mencari uang untuk menghidupi dirinya sendiri. Baru saja lega nafasnya dari sesak dunia pendidikan, ia sudah harus menanggung seluruh nyawa di keluarganya.”
“Anak perempuan itu menjawab, ‘Iya ayah, sabar dulu, aku tahu’, dan seketika itu wajahnya memar, tubuhnya koyak dan paling parah adalah jiwanya. Jiwanya berkali-kali dimatikan Ayah dan Ibunya.’
“Tentu, menafkahi mereka adalah tujuan anak perempuan itu, tetapi Tuhan, apa perlu kalimat-kalimat semacam itu yang keluar dari mulut ayah dan ibu. Kasihan anak kecil yang bertumbuh besar itu Tuhan, kasihanilah ia, meskipun ia bukan anak perempuan kecil lemah yang dulu, tetap ia orang yang sama, yang penuh sesak hatinya dari masa lalu dan sesak sakitnya belum berakhir juga selama bertahun. Aku iba dengan anak perempuan kecil yang duduk dipojokkan itu. Kenapa dulu kau tak buat dia mati saja?”
“Sayang, aku tidak bisa berkata apa-apa. Kamu cukup percaya aku. Suatu saat anak itu harus bertarung di perhelatan besar, anak itu akan menjadi sangat besar dan bercahaya. Untuk sekarang sentuh jiwanya, jangan sampai gila. Terus bersanding dengan mencintaiku. Dia akan merasakan kebahagiaan luar biasa, yang tak akan lagi ia cari kemana-mana.”

30 Januari 2016

10.50

Dialog Tujuh



“Aku baru saja melihat foto-fotonya di media sosial. Aku tersenyum-senyum malu sendiri. Senang rasanya bisa melihat apa yang dia lakukan selama hidupnya, meskipun tidak sepenuhnya. Senang rasanya bisa melihat apa saja yang sudah ia lewati selama ini yang menjadikannya sesosok lelaki yang aku kagumi. Tetapi, semakin aku sadar bahwa aku tidak pantas dan tidak akan mungkin bisa bersamanya.
“Hidupnya dipenuhi dengan para sahabat yang terlihat begitu tidak bermasalah. Hidupnya penuh dengan keramaian. Juga, ia dikelilingi teman-teman yang menuntunnya kepada agama. Sedangkan aku? Sahabat-sahabatku yang baik hatinya bepergian kesana kemari, tinggalah aku sendiri, dan tersisa teman-teman yang sering disebut buruk oleh orang-orang. Aku berteman dengan mereka dan namaku pun menjadi mengikuti keburukan.
“Tetapi, Tuhan, kenapa tidak ada sedikitpun hatiku menyesal dengan jalan hidupku? Aku justru bersyukur. Ketika, anak perempuan lain tidak kau perlihatkan muka dunia yang sebenarnya, Engkau ceburkan aku ke dalam selokan. Bukan untuk aku tetap tinggal di sana, tetapi untuk mengetahui dan merasakan, betapa pun bau dan kotornya di sana tetap ada nyawa yang bertahan hidup di dalamnya. Ikan-ikan yang tersesat, atau mungkin makhluk-makhluk kecil yang tak terlihat mata telanjang. Lalu, setelah kau berikan aku kesempatan untuk belajar dari kotor dan gelapnya selokan, kau tarik aku kembali ke permukaan, kau bersihkan lumpur dan bau di badan. Tak kau biarkan aku tersesat dan tinggal di dalam hal-hal buruk yang tinggal di dalamnya. Di sana aku menemukan Cinta-Mu.”
“Dari tempat kotor itu aku belajar bagaimana jalannya kehidupan yang sebenar-benarnya. Aku belajar memperjuangkan hidupku sebagaimana manusia dan perempuan. Aku belajar membedakan mana hidup yang layak dan tidak, belajar kebaikan dan keberanian, belajar bagaimana aku memenangkan diriku. Aku belajar bahwa manusia itu hanya sekedar makhluk, yang sebaik-baiknya mereka, akan pergi dengan caranya masing-masing, dan pada akhirnya, kau membayar kesabaran dan keikhlasanku dengan pertemuanku dengan cinta-Mu yang kekal dan tidak akan pergi-pergi.”
“Dan tak menyesal aku sudah berbau dan berlumpur. Aku berterima kasih dan menjadi ketakutan. Seandainya, aku tidak kau dorong masuk ke dalam tempat gelap, kotor, dan berbau itu, apa aku akan menemukan-Mu? Oh sayangku, aku takut tidak menemukan-Mu. Aku takut terlambat mencintai-Mu.”
“Dan lagi, kau sirami terus hatimu itu, cantik. Pengalaman-pengalaman itukah menurutmu yang menjadikanmu menemukan aku? Bukan, sayangku. Ingatkah kamu sedari kecil senang sekali duduk di masjid atau di depan televisi hanya untuk mendengarkan khotbah-khotbah lelaki atau perempuan tua yang disebut Ustad atau Ustadzah? Aku masih ingat betul kau sedari kecil senang mendengarkan nasihat-nasihat yang aku tulis dengan sempurna di dalam al-quran. Itu semua tertanam dan berakar di bawah alam sadarmu. Kau yang begitu kecil mengimani semua tuturku dalam al-quran. Sampai kau beranjak remaja dan dewasa, kau sangat jarang mendengarkan tuturku lagi, tapi bukan berarti semua yang kau imani sejak kecil menjadi hilang. Ia berada di alam bawah sadarmu, ia menjelma separuh isi hati dan pikiranmu, merubah sudut pandangmu, dan menjaga dirimu, itu Iman-mu.”
“Dan, hanya sedikit yang aku lakukan untukmu, sayangku. Aku sangat mengenal watakmu itu, kau harus merasakannya dulu, entah itu kebaikan atau keburukan, baru kau bisa belajar. Jadi, aku sempurnakan perjalanan imanmu. Setelah kau mendengar tutur-tutur indah dan sempurna milikku tentang jalannya kehidupan, yang mungkin sudah hampir terlupa olehmu karena terpaut waktu yang cukup lama ia mengendap sedari kamu kecil hingga detik ini, aku sandingkan ia dengan pengalaman hidup milikmu. Dan, disanalah Imanmu menampak dan begitu terang kau lihat.”
“Seakan-akan, kau sadari bukan? Kalau apa yang kau dengar dulu adalah benar adanya di dalam kehidupan.”
“Ya Allah ya Tuhan semesta alam, kau yang begitu indah dan menyenangkan begitu memesonaku, tak ada bentuk atau wujudmu, tetapi kenapa aku bisa begitu membayangkan Engkau yang begitu indah dan bercahaya, begitu hangat dan penuh cinta, dan yang paling penting kau yang tahu segala-galanya di jagad raya ini.”
“Oh iya, Tuhan, aku juga melihat beberapa foto lelaki itu sedang beraktivitas. Ia berorganisasi dan di dalam beberapa komunitas tentunya. Ia dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang menutup auratnya, tidak mungkin satu dari mereka tidak ada yang hatinya pantas bersanding dengan hati baik milik lelaki itu. Aku? Ampun, aku hanya wanita perokok yang berteman dengan banyak laki-laki, hidup apabila malam, dan aku sendirian. Wanita yang tidak normal, tidak seperti wanita kebanyakan. Buah pikir dan stigma yang aku bangun sebenarnya adalah itu, keabnormalan aku sebagai wanita.
“Tetapi, aku buang jauh hal itu, karena aku yang selalu mudah untuk jatuh dan sakit sendiri dengan hasil pemikiranku. Aku ganti pemikiran itu dengan hal realistis yang ada. Bahwa tidak semua wanita di dunia itu, termasuk para wanita berkerudung itu, mengalami pahit dan getirnya jalan hidupku untuk menemukan-Mu. Aku percaya semua orang memiliki titik pertemuan mereka dengan-Mu yang berbeda-beda, dan mungkin karena aku adalah milikmu yang sangat spesial, kau hadiahi aku pengetahuan tentang bagaimana terbentuknya sebuah gelap. Itu juga mengapa terkadang aku merasa menjadi anak perempuan yang terlalu cepat dewasa, tidak seperti anak perempuan lainnya. Aku merasa berbeda. Mungkin, ada rencana-Mu yang begitu besar untukku dan tak mampu mata seorang hamba-Mu ini melihatnya. Jadi, aku pun tidak menyesal, kau pilih untuk menjadi seorang wanita yang berbeda dari yang lainnya. Baik itu dari pemikiranku ataupun hatiku.”
“Oh, cantikmu memang berbeda sayangku. Percayakah kamu, bahwa setiap hal di dunia ini memiliki harganya masing-masing, sudah kau temukan itu kan di beberapa waktu perjalananmu? Ketika, aku berikanmu sebuah perjuangan yang lebih besar dari pada wanita lainnya, akan ada harga yang akan aku berikan untukmu untuk perjalananmu, tergantung kepada bagaimana kamu menjalani perjuanganmu. Apabila, kau berjuang dengan hati yang bersih dan tanpa melakukan hal-hal tercela dan berdosa, harga yang mahal akan aku berikan kepadamu. Dan, begitu pula sebaliknya, cintaku. Ah, kau sudah tahu ya? Maaf ya aku mengulang-ulang ucapanku, padahal kau sudah jelas mengerti itu.”
“Ya, Tuhanku, aku sudah mengerti itu. Terima kasih kembali mengingatkan aku. Foto-foto yang kulihat tak hanya sekedar itu, kekasihku. Aku baru sadar kedua laki-laki yang pernah dekat denganku adalah teman dekatnya. Aduh, apalagi ini. Ada banyak foto yang menggangguku. Dan, termasuk itu. Sudahlah, Tuhan. Lagipula, aku memang tidak pantas bersanding dengannya apapun itu alasannya.”
“Yang aku pelajari dari banyak gambar perjalanan hidupnya. Kami memiliki sejarah perjalanan yang berbeda untuk bisa bertemu dengan cinta-Mu. Dan, adalah wajar, ia, yang memiliki cara berbeda untuk bertemu dengan-Mu, tidak menerima keadaanku yang terlihat oleh manusia adalah buruk, dan aku masa bodoh. Aku tidak peduli lagi dengan mata manusia, aku hanya peduli kepada penglihatanmu, aku tidak mau buruk di matamu. Aku menemukanmu dengan caraku dan aku membanggakan itu, karena tak seorang pun mengerti. Sebuah hubungan percintaan yang hanya aku dan Engkau yang tahu bagaimana kita bertemu. Itu saja.”
     “Romantis. Cinta. Aku akan terus mencintaimu, itu yang harus kamu ingat sepanjang sisa perjalanan hidupmu. Jangan kau lupa denganku. Aku akan terus ada bersamamu. Jadi, percayakan saja hidupmu padaku. Aku bukan manusia. Atau makhluk lainnya. Aku adalah Tuhanmu, memiliki cinta kepadamu dan tak akan pernah bisa terbayangkan olehmu. Cinta yang tak bisa kau bandingkan dengan tingginya gunung, dalamnya lautan, atau luasnya semesta raya.”


9 Januari 2016

Sunday, February 7, 2016

Dialog Enam


“Ya Tuhan, aku malu. Malu karena aku terlalu berani untuk mengatakan isi hatiku. Malam ini aku dibuat malu oleh orang yang aku anggap seperti kakakku sendiri, Hamzah Muhammad, seorang pemikir yang memiliki banyak potensi tetapi tetap rendah hati.

“Tak berapa lama lalu, aku bertemu teman baru yang rasa-rasanya senang sekali bisa mengenalku, aku terkenal katanya, dan ia ingin sekali mengenalku lebih dalam. Ia bercerita bahwa lelaki itu, lelaki yang sudah merobohkan benteng sudut pandang yang aku bangun sedemikian rupa tentang pernikahan. Aku yang membenci pernikahan, aku yang membenci kata cinta, terkecuali itu terhadap satu, Tuhan, itu yang aku temukan pada akhir dari perjalananku yang kau kemas sedemikian apiknya.

“Aku yang tahu bagaimana seluk beluk kebohongan dalam cinta, dan aku yang tahu bahwa cinta itu ilusi yang kita buat sendiri. Dan, karena lelaki itu, besok ia datang melamarku pun aku mau. Tuhan, maafkan aku ya, terus saja aku berkutat dengan pemikiran percintaan, tapi engkau yang maha tahu, cinta itu kau buatkan untuk umatmu menjadi kuat, dengan kejutan dalam segala bentuknya.

“Teruskan ceritamu kekasihku, aku tak memiliki celah untuk bosan mendengarkan apapun itu keluh kesahmu.”

“Engkau sangat tahu betapa akhir-akhir ini hatiku gelisah dan butuh tenang. Aku terus saja memikirkan tentang hijab di kepala. Aku begitu ingin menyentuhnya untuk menyempurnakan cintaku kepadamu. Tuhan, dengan menangis aku memohonkan ini kepadamu, tetapkan hatiku, bukan karena lelaki itu kepalaku berpusing dengan keinginan berhijab dan apa yang akan terjadi nanti setelah aku berhijab, tetapi hatiku, ia kerap kali mengingatkanku bahwa aku bisa mati kapan saja.

“Teman baru yang aku ceritakan tadi datang dan membawa cerita tentang indahnya pernikahan. Ia pun datang membawa berita bahwa dulu lelaki yang membawaku lebih dalam untuk mengenal-Mu pernah dan sangat mencintai seorang wanita berhijab syar’i dan cantik rupawan. Ia adalah anak Kiai yang cukup mahsyur. Kalau ada yang disebut wanita sempurna, mungkin ia orangnya. Hati lelaki itu pupus ketika wanita memesona itu menikahi seorang lelaki lain dan pindah keluar negeri.

“Aku malam ini menceritakan itu kepada Mas Hamzah. Dan, ia bilang, ia lupa menceritakan soal wanita yang cantik hati dan parasnya itu. Lalu, ia menambahkan malu di hatiku, ia bilang lelaki itu pernah sampai bertanya kepadanya bagaimana cara menghafal al-quran. Dan malam ini aku tahu bahwa anak perempuan itu hafal al-quran. Seketika, lemas badanku, aku beritahu Mas Hamzah, kalau saja Mas beritahu aku sebelum aku terlalu jauh mendoakan lelaki itu, mungkin aku tidak akan pernah menumbuhkan rasa kepada lelaki itu, mungkin bahkan sebelum itu bertumbuh tunas, sudah aku matikan saja benihnya.

“Itu adalah tolak ukur wanita macam apa yang ia ingini, dan jelas itu bukan aku. Dan, jelas sudah aku tak akan pernah mengisi ruang di sedikit bagian kepalanya. Dan, aku malu Mas Hamzah, berani-beraninya orang seperti aku mengharapkan keberadaannya menjadi pendamping hidupku. Aku terlihat seperti tidak tahu diri, seperti tidak tahu kasta atau apapunlah sebutannya. Bahwa, aku ini hanya sudra di matanya. Aku sekarang sangat mengerti bahwa ia layak menertawakan aku yang seperti ini, bermimpi untuk bisa memiliki hatinya, dan berdoa kepada-Mu untuk menjadikan dia seseorang yang bisa menuntunku untuk lebih dekat dengan-Mu, Ya Rabb. Malu, aku malu.

“Jadi? Apa yang kamu rasakan sekarang? Dan apa yang ingin kau lakukan? Lakukan saja, aku tidak akan pernah bisa menghalangimu. Aku hanya bisa melihatmu dan mencintaimu dengan caraku, Kekasihku.”

“Kekasihku, Ya Allah, malam ini aku sudahi doaku untuknya. Aku benar-benar hanya akan hidup bersama-Mu. Tak ada satu yang akan membuat hatiku bergerak lagi. Apapun kelak yang akan terjadi nanti, ketika aku lupa kenapa aku tidak mau lagi jatuh hati, aku mohon terus ingatkan aku, bahwa cinta itu tidak pernah ada, dan aku tidak perlu repot-repot untuk mencari mana lelaki yang bisa menuntunku. Cukup Engkau, Ya Tuhan, dan aku. Sudah. Aku sekarang semakin yakin, bahwa hidup sendirian bersama-Mu itu lebih tidak menyakitkan, ketimbang hidup bersama manusia.

“Aku merasa berterbangan kesana kemari mengagumi semakin matang cinta yang kau persembahkan untukku, tunggu saja sayang, ketika semakin matang cintamu, ia akan berbuah manis dan segar. Masih banyak pelajaran yang harus kau sambut dariku. Tentang isi kepalamu itu. Aku tahu cara terbaik untuk mengajarkanmu.


6 Februari 2016