Friday, February 12, 2016

Dialog Delapan



“Ya Tuhan, jangan biarkan aku menjadi gila, karena tak satu pun tempat aku berpegangan di dunia. Lagi, untuk beribu kalinya aku dibuat gila oleh orang tuaku sendiri. Darah dagingku, yang aku pertaruhkan seluruh hidupku hanya untuk mereka berbahagia. Aku begitu ingin di peluk mereka semenjak aku mulai mengerti bahwa tak sedikitpun mereka mencoba untuk melihat keadaan lahir dan batinku, mereka tak peduli. Tak mereka besarkan hatiku barang sedikit.”
“Ya, aku tahu, teruskan dulu pertumpahan darah di batinmu. Aku mendengarkanmu.”
“Hal buruk sedari kecil sudah kualami, bahkan sampai aku menikmati. Hujatan dan pukulan bukan kekerasan tetapi kegiatan sehari-hari  mereka untuk membesarkanku. Ikat pinggang, sapu lidi, barang pecah belah, apapun yang ada di sekitar mereka adalah perlengkapan untuk menumbuhkanku menjadi seperti ini. Pun mereka menyerang hatiku, sumpah serapah mengalir tanpa ragu. Ayah, Ibu, tahukah kamu apapun yang keluar dari mulutmu itu adalah doa untukku.”
“Bahkan, aku tak bisa mengingat masa kecilku barang sedikit. Ketika, berkumpul bersama teman sekolah dulu, tak ada yang bisa kuingat, mereka bercerita begitu semangatnya, tentang aku yang dulu, tentang keceriaan dan betapa aku yang begitu menyenangkan. Aku lupa.
“Sempat terpikir mungkin aku memiliki penyakit kehilangan memori dan aku memotivasi diri mungkin aku hanya memiliki kesulitan untuk mengingat sesuatu. Tetapi, kalau memang benar begitu, kenapa begitu kental ingatan tentang aku yang baru berumur empat tahun, di kamar ayah ibuku, aku dihujami hujatan-hujatan dan doa tak baik dari kedua orang tuaku, aku disiksa oleh ayahku sendiri dengan ikat pinggang berkepala besi miliknya. Aku hanya meraung dan menangis. Habis air mataku, tersisa sakit di sekujur badanku, dan aku tetap hidup.”
“Dan lagi, setelah dua puluh satu tahun aku hidup, aku melihat kembali anak perempuan kecil menangis tersedu di pojokkan kamarku. Hati dan badannya terkoyak. Ia yang menangis sampai bengkak matanya dan tak bisa melihat apa-apa, karena pesakitan dan sumpah jahat dari kedua orang tuanya. Sebentar-sebentar ia menangisi hidupnya yang berupa kematian, sebentar-sebentar ia tertawa dengan permainan dunia ini yang meninggalkannya sendirian.
“Anak kecil itu tersekat nafasnya, ia memukul dadanya sekencang yang ia bisa, ia pukuli kepalanya untuk mati, katanya. Tak segan ia memukuli badannya sendiri, ia merasa bersalah, karena keberadaannya, kedua orangtuanya harus berdosa karena menghujaminya pesakitan, ia selalu berdoa apapun yang dilakukan orang tuanya, mereka akan tetap bersama-sama masuk surga, ia babak belur tak apa. Begitu cinta miliknya kepada Ayah Ibunya.
“Tuhan? Kenapa kau diam saja? Apa kau mendengarkanku?”
“Aku sedang menangis sayang. Aku menangis bersamamu. Ini adalah caraku membesarkanmu, maafkan aku, sungguh begitu nyeri hatiku kalau kau menceritakan kembali hidupmu sedari dulu. Kamu selalu merasa sendirian kan? Sayang, seandainya kamu tahu, aku menangis bersamamu kala itu, dan disetiap kala yang lainnya kamu menangis. Aku begitu mencintamu, sehingga tak segan cobaan bertubi menghampirimu, tetapi kamu percayakan kepadaku, itu semua aku lakukan karena alasan. Alasan yang tak bisa aku hamparkan kepadamu. Tidak boleh. Aku maha adil, dan inilah caraku. Asal kamu percaya aku. Tak pernah sedikitpun aku bermaksud menyakiti lahir dan batinmu.”
“Hanya ingin aku dengar mereka bertanya barang sedikit tentang aku, ‘Bagaimana keadaan di kampus? Bagaimana kabarmu? Kenapa murung mukamu? Ada masalah?’. Aku tak apa dihujami pesakitan-pesakitan dari mereka, tetapi setidaknya ada sedikit dari mereka yang menghargai keberadaanku. Tuhan, aku mohon, aku tidak mau menjadi gila. Aku mau waras dan hidup. Aku melihat betapa indah kehidupan milikmu, dan aku tidak mau kehilangannya karena aku gila.”
“Coba Tuhan lihat, anak kecil itu sudah tumbuh besar. Banyak penderitaannya yang ia hadapi tanpa sesiapa. Sahabat, Cinta, Keluarga, semuanya manusia yang pada dasarnya hidup untuk mengecewakan dan dikecewakan, dan darimana lagi kepercayaan akan bertumbuh? Dan ia yang sekarang hanya memilikimu, untuk digenggamnya, dipeluknya, diciumnya, disandarnya, dan dicintainya.”
“Dulu, anak itu adalah Ketua OSIS SMP dan SMA dulu, anak itu adalah PASKIBRAKA, anak itu adalah Ranking satu selama bersekolah, Anak itu adalah Pemenang di setiap kompetisi menari, berpidato bahasa inggris, pramuka, pembawa acara bahasa inggris. Anak adalah Brand Ambassador Provider terkenal di Indonesia, Anak itu berjualan kerupuk di sekolah sejak sekolah dasar untuk uang sakunya sendiri, anak itu mengajar privat temannya yang nilainya kurang dan uangnya untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Anak itu berjualan headset sepuluh ribuan di sekolah menengah pertamanya, Anak itu mengajar di tempat les sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama karena kemampuan berbahasa inggris yang ia miliki. Anak itu mulai masuk ke dunia entertainer di bangku Sekolah Menengah Atas, ia mencari uang dari sana untuk uang saku. Selama bersekolah ia tidak pernah meminta uang bayaran kepada orang tuanya, ia menerima beasiswa penuh, pun sekarang setelah ia berkuliah, ia tidak pernah merepotkan orang tuanya dengan persoalan uang. Karena, ia sangat tahu bahwa seringkali pemicu masalah di dalam keluarganya adalah Uang. Uang begitu menakutkannya.”
“Ia baru saja lulus dari Universitas dengan Cum Laude dan dalam jangka waktu 3,5 tahun. Ia memiliki banyak sekali teman. Ia terkenal ramah, berprestasi, dan menyenangkan. Semua memujinya, semua menyanjungnya, dan itu terkecuali orang tuanya. ‘Lulus itu bukan hal besar, bagus kalau tahu diri orang tuanya miskin, jadi bisa bantu cari uang lebih besar kan?’ ‘Anak brengsek, sok pinter. Apa guna lo pinter, hah? Gak ada gunanya!’ ‘Hidup lo gak bakal sukses kalau gak ada gue!’ ‘Apa bagusnya lo lulus cepet? Apa gunanya lo cum laude?’ ‘Gantian karena lo udah lulus, sekarang uang sekolah adik lo adalah tanggungan lo.’ ‘Sekarang lo berhenti kemanapun selain kerja! Cari uang! Udah waktunya lo cari uang yang banyak.’ ‘Lo itu selama ini cuma bisa nyusahin orang tua. Makanya, cepet cari uang.’
“Oh, Tuhanku, aku menangis menciumi bumimu, badan lemas tak bersisa sedikitpun gerak. Anak itu baru berumur dua puluh satu tahun, dan selama ini ia selalu mencari uang untuk menghidupi dirinya sendiri. Baru saja lega nafasnya dari sesak dunia pendidikan, ia sudah harus menanggung seluruh nyawa di keluarganya.”
“Anak perempuan itu menjawab, ‘Iya ayah, sabar dulu, aku tahu’, dan seketika itu wajahnya memar, tubuhnya koyak dan paling parah adalah jiwanya. Jiwanya berkali-kali dimatikan Ayah dan Ibunya.’
“Tentu, menafkahi mereka adalah tujuan anak perempuan itu, tetapi Tuhan, apa perlu kalimat-kalimat semacam itu yang keluar dari mulut ayah dan ibu. Kasihan anak kecil yang bertumbuh besar itu Tuhan, kasihanilah ia, meskipun ia bukan anak perempuan kecil lemah yang dulu, tetap ia orang yang sama, yang penuh sesak hatinya dari masa lalu dan sesak sakitnya belum berakhir juga selama bertahun. Aku iba dengan anak perempuan kecil yang duduk dipojokkan itu. Kenapa dulu kau tak buat dia mati saja?”
“Sayang, aku tidak bisa berkata apa-apa. Kamu cukup percaya aku. Suatu saat anak itu harus bertarung di perhelatan besar, anak itu akan menjadi sangat besar dan bercahaya. Untuk sekarang sentuh jiwanya, jangan sampai gila. Terus bersanding dengan mencintaiku. Dia akan merasakan kebahagiaan luar biasa, yang tak akan lagi ia cari kemana-mana.”

30 Januari 2016

10.50

Dialog Tujuh



“Aku baru saja melihat foto-fotonya di media sosial. Aku tersenyum-senyum malu sendiri. Senang rasanya bisa melihat apa yang dia lakukan selama hidupnya, meskipun tidak sepenuhnya. Senang rasanya bisa melihat apa saja yang sudah ia lewati selama ini yang menjadikannya sesosok lelaki yang aku kagumi. Tetapi, semakin aku sadar bahwa aku tidak pantas dan tidak akan mungkin bisa bersamanya.
“Hidupnya dipenuhi dengan para sahabat yang terlihat begitu tidak bermasalah. Hidupnya penuh dengan keramaian. Juga, ia dikelilingi teman-teman yang menuntunnya kepada agama. Sedangkan aku? Sahabat-sahabatku yang baik hatinya bepergian kesana kemari, tinggalah aku sendiri, dan tersisa teman-teman yang sering disebut buruk oleh orang-orang. Aku berteman dengan mereka dan namaku pun menjadi mengikuti keburukan.
“Tetapi, Tuhan, kenapa tidak ada sedikitpun hatiku menyesal dengan jalan hidupku? Aku justru bersyukur. Ketika, anak perempuan lain tidak kau perlihatkan muka dunia yang sebenarnya, Engkau ceburkan aku ke dalam selokan. Bukan untuk aku tetap tinggal di sana, tetapi untuk mengetahui dan merasakan, betapa pun bau dan kotornya di sana tetap ada nyawa yang bertahan hidup di dalamnya. Ikan-ikan yang tersesat, atau mungkin makhluk-makhluk kecil yang tak terlihat mata telanjang. Lalu, setelah kau berikan aku kesempatan untuk belajar dari kotor dan gelapnya selokan, kau tarik aku kembali ke permukaan, kau bersihkan lumpur dan bau di badan. Tak kau biarkan aku tersesat dan tinggal di dalam hal-hal buruk yang tinggal di dalamnya. Di sana aku menemukan Cinta-Mu.”
“Dari tempat kotor itu aku belajar bagaimana jalannya kehidupan yang sebenar-benarnya. Aku belajar memperjuangkan hidupku sebagaimana manusia dan perempuan. Aku belajar membedakan mana hidup yang layak dan tidak, belajar kebaikan dan keberanian, belajar bagaimana aku memenangkan diriku. Aku belajar bahwa manusia itu hanya sekedar makhluk, yang sebaik-baiknya mereka, akan pergi dengan caranya masing-masing, dan pada akhirnya, kau membayar kesabaran dan keikhlasanku dengan pertemuanku dengan cinta-Mu yang kekal dan tidak akan pergi-pergi.”
“Dan tak menyesal aku sudah berbau dan berlumpur. Aku berterima kasih dan menjadi ketakutan. Seandainya, aku tidak kau dorong masuk ke dalam tempat gelap, kotor, dan berbau itu, apa aku akan menemukan-Mu? Oh sayangku, aku takut tidak menemukan-Mu. Aku takut terlambat mencintai-Mu.”
“Dan lagi, kau sirami terus hatimu itu, cantik. Pengalaman-pengalaman itukah menurutmu yang menjadikanmu menemukan aku? Bukan, sayangku. Ingatkah kamu sedari kecil senang sekali duduk di masjid atau di depan televisi hanya untuk mendengarkan khotbah-khotbah lelaki atau perempuan tua yang disebut Ustad atau Ustadzah? Aku masih ingat betul kau sedari kecil senang mendengarkan nasihat-nasihat yang aku tulis dengan sempurna di dalam al-quran. Itu semua tertanam dan berakar di bawah alam sadarmu. Kau yang begitu kecil mengimani semua tuturku dalam al-quran. Sampai kau beranjak remaja dan dewasa, kau sangat jarang mendengarkan tuturku lagi, tapi bukan berarti semua yang kau imani sejak kecil menjadi hilang. Ia berada di alam bawah sadarmu, ia menjelma separuh isi hati dan pikiranmu, merubah sudut pandangmu, dan menjaga dirimu, itu Iman-mu.”
“Dan, hanya sedikit yang aku lakukan untukmu, sayangku. Aku sangat mengenal watakmu itu, kau harus merasakannya dulu, entah itu kebaikan atau keburukan, baru kau bisa belajar. Jadi, aku sempurnakan perjalanan imanmu. Setelah kau mendengar tutur-tutur indah dan sempurna milikku tentang jalannya kehidupan, yang mungkin sudah hampir terlupa olehmu karena terpaut waktu yang cukup lama ia mengendap sedari kamu kecil hingga detik ini, aku sandingkan ia dengan pengalaman hidup milikmu. Dan, disanalah Imanmu menampak dan begitu terang kau lihat.”
“Seakan-akan, kau sadari bukan? Kalau apa yang kau dengar dulu adalah benar adanya di dalam kehidupan.”
“Ya Allah ya Tuhan semesta alam, kau yang begitu indah dan menyenangkan begitu memesonaku, tak ada bentuk atau wujudmu, tetapi kenapa aku bisa begitu membayangkan Engkau yang begitu indah dan bercahaya, begitu hangat dan penuh cinta, dan yang paling penting kau yang tahu segala-galanya di jagad raya ini.”
“Oh iya, Tuhan, aku juga melihat beberapa foto lelaki itu sedang beraktivitas. Ia berorganisasi dan di dalam beberapa komunitas tentunya. Ia dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang menutup auratnya, tidak mungkin satu dari mereka tidak ada yang hatinya pantas bersanding dengan hati baik milik lelaki itu. Aku? Ampun, aku hanya wanita perokok yang berteman dengan banyak laki-laki, hidup apabila malam, dan aku sendirian. Wanita yang tidak normal, tidak seperti wanita kebanyakan. Buah pikir dan stigma yang aku bangun sebenarnya adalah itu, keabnormalan aku sebagai wanita.
“Tetapi, aku buang jauh hal itu, karena aku yang selalu mudah untuk jatuh dan sakit sendiri dengan hasil pemikiranku. Aku ganti pemikiran itu dengan hal realistis yang ada. Bahwa tidak semua wanita di dunia itu, termasuk para wanita berkerudung itu, mengalami pahit dan getirnya jalan hidupku untuk menemukan-Mu. Aku percaya semua orang memiliki titik pertemuan mereka dengan-Mu yang berbeda-beda, dan mungkin karena aku adalah milikmu yang sangat spesial, kau hadiahi aku pengetahuan tentang bagaimana terbentuknya sebuah gelap. Itu juga mengapa terkadang aku merasa menjadi anak perempuan yang terlalu cepat dewasa, tidak seperti anak perempuan lainnya. Aku merasa berbeda. Mungkin, ada rencana-Mu yang begitu besar untukku dan tak mampu mata seorang hamba-Mu ini melihatnya. Jadi, aku pun tidak menyesal, kau pilih untuk menjadi seorang wanita yang berbeda dari yang lainnya. Baik itu dari pemikiranku ataupun hatiku.”
“Oh, cantikmu memang berbeda sayangku. Percayakah kamu, bahwa setiap hal di dunia ini memiliki harganya masing-masing, sudah kau temukan itu kan di beberapa waktu perjalananmu? Ketika, aku berikanmu sebuah perjuangan yang lebih besar dari pada wanita lainnya, akan ada harga yang akan aku berikan untukmu untuk perjalananmu, tergantung kepada bagaimana kamu menjalani perjuanganmu. Apabila, kau berjuang dengan hati yang bersih dan tanpa melakukan hal-hal tercela dan berdosa, harga yang mahal akan aku berikan kepadamu. Dan, begitu pula sebaliknya, cintaku. Ah, kau sudah tahu ya? Maaf ya aku mengulang-ulang ucapanku, padahal kau sudah jelas mengerti itu.”
“Ya, Tuhanku, aku sudah mengerti itu. Terima kasih kembali mengingatkan aku. Foto-foto yang kulihat tak hanya sekedar itu, kekasihku. Aku baru sadar kedua laki-laki yang pernah dekat denganku adalah teman dekatnya. Aduh, apalagi ini. Ada banyak foto yang menggangguku. Dan, termasuk itu. Sudahlah, Tuhan. Lagipula, aku memang tidak pantas bersanding dengannya apapun itu alasannya.”
“Yang aku pelajari dari banyak gambar perjalanan hidupnya. Kami memiliki sejarah perjalanan yang berbeda untuk bisa bertemu dengan cinta-Mu. Dan, adalah wajar, ia, yang memiliki cara berbeda untuk bertemu dengan-Mu, tidak menerima keadaanku yang terlihat oleh manusia adalah buruk, dan aku masa bodoh. Aku tidak peduli lagi dengan mata manusia, aku hanya peduli kepada penglihatanmu, aku tidak mau buruk di matamu. Aku menemukanmu dengan caraku dan aku membanggakan itu, karena tak seorang pun mengerti. Sebuah hubungan percintaan yang hanya aku dan Engkau yang tahu bagaimana kita bertemu. Itu saja.”
     “Romantis. Cinta. Aku akan terus mencintaimu, itu yang harus kamu ingat sepanjang sisa perjalanan hidupmu. Jangan kau lupa denganku. Aku akan terus ada bersamamu. Jadi, percayakan saja hidupmu padaku. Aku bukan manusia. Atau makhluk lainnya. Aku adalah Tuhanmu, memiliki cinta kepadamu dan tak akan pernah bisa terbayangkan olehmu. Cinta yang tak bisa kau bandingkan dengan tingginya gunung, dalamnya lautan, atau luasnya semesta raya.”


9 Januari 2016

Sunday, February 7, 2016

Dialog Enam


“Ya Tuhan, aku malu. Malu karena aku terlalu berani untuk mengatakan isi hatiku. Malam ini aku dibuat malu oleh orang yang aku anggap seperti kakakku sendiri, Hamzah Muhammad, seorang pemikir yang memiliki banyak potensi tetapi tetap rendah hati.

“Tak berapa lama lalu, aku bertemu teman baru yang rasa-rasanya senang sekali bisa mengenalku, aku terkenal katanya, dan ia ingin sekali mengenalku lebih dalam. Ia bercerita bahwa lelaki itu, lelaki yang sudah merobohkan benteng sudut pandang yang aku bangun sedemikian rupa tentang pernikahan. Aku yang membenci pernikahan, aku yang membenci kata cinta, terkecuali itu terhadap satu, Tuhan, itu yang aku temukan pada akhir dari perjalananku yang kau kemas sedemikian apiknya.

“Aku yang tahu bagaimana seluk beluk kebohongan dalam cinta, dan aku yang tahu bahwa cinta itu ilusi yang kita buat sendiri. Dan, karena lelaki itu, besok ia datang melamarku pun aku mau. Tuhan, maafkan aku ya, terus saja aku berkutat dengan pemikiran percintaan, tapi engkau yang maha tahu, cinta itu kau buatkan untuk umatmu menjadi kuat, dengan kejutan dalam segala bentuknya.

“Teruskan ceritamu kekasihku, aku tak memiliki celah untuk bosan mendengarkan apapun itu keluh kesahmu.”

“Engkau sangat tahu betapa akhir-akhir ini hatiku gelisah dan butuh tenang. Aku terus saja memikirkan tentang hijab di kepala. Aku begitu ingin menyentuhnya untuk menyempurnakan cintaku kepadamu. Tuhan, dengan menangis aku memohonkan ini kepadamu, tetapkan hatiku, bukan karena lelaki itu kepalaku berpusing dengan keinginan berhijab dan apa yang akan terjadi nanti setelah aku berhijab, tetapi hatiku, ia kerap kali mengingatkanku bahwa aku bisa mati kapan saja.

“Teman baru yang aku ceritakan tadi datang dan membawa cerita tentang indahnya pernikahan. Ia pun datang membawa berita bahwa dulu lelaki yang membawaku lebih dalam untuk mengenal-Mu pernah dan sangat mencintai seorang wanita berhijab syar’i dan cantik rupawan. Ia adalah anak Kiai yang cukup mahsyur. Kalau ada yang disebut wanita sempurna, mungkin ia orangnya. Hati lelaki itu pupus ketika wanita memesona itu menikahi seorang lelaki lain dan pindah keluar negeri.

“Aku malam ini menceritakan itu kepada Mas Hamzah. Dan, ia bilang, ia lupa menceritakan soal wanita yang cantik hati dan parasnya itu. Lalu, ia menambahkan malu di hatiku, ia bilang lelaki itu pernah sampai bertanya kepadanya bagaimana cara menghafal al-quran. Dan malam ini aku tahu bahwa anak perempuan itu hafal al-quran. Seketika, lemas badanku, aku beritahu Mas Hamzah, kalau saja Mas beritahu aku sebelum aku terlalu jauh mendoakan lelaki itu, mungkin aku tidak akan pernah menumbuhkan rasa kepada lelaki itu, mungkin bahkan sebelum itu bertumbuh tunas, sudah aku matikan saja benihnya.

“Itu adalah tolak ukur wanita macam apa yang ia ingini, dan jelas itu bukan aku. Dan, jelas sudah aku tak akan pernah mengisi ruang di sedikit bagian kepalanya. Dan, aku malu Mas Hamzah, berani-beraninya orang seperti aku mengharapkan keberadaannya menjadi pendamping hidupku. Aku terlihat seperti tidak tahu diri, seperti tidak tahu kasta atau apapunlah sebutannya. Bahwa, aku ini hanya sudra di matanya. Aku sekarang sangat mengerti bahwa ia layak menertawakan aku yang seperti ini, bermimpi untuk bisa memiliki hatinya, dan berdoa kepada-Mu untuk menjadikan dia seseorang yang bisa menuntunku untuk lebih dekat dengan-Mu, Ya Rabb. Malu, aku malu.

“Jadi? Apa yang kamu rasakan sekarang? Dan apa yang ingin kau lakukan? Lakukan saja, aku tidak akan pernah bisa menghalangimu. Aku hanya bisa melihatmu dan mencintaimu dengan caraku, Kekasihku.”

“Kekasihku, Ya Allah, malam ini aku sudahi doaku untuknya. Aku benar-benar hanya akan hidup bersama-Mu. Tak ada satu yang akan membuat hatiku bergerak lagi. Apapun kelak yang akan terjadi nanti, ketika aku lupa kenapa aku tidak mau lagi jatuh hati, aku mohon terus ingatkan aku, bahwa cinta itu tidak pernah ada, dan aku tidak perlu repot-repot untuk mencari mana lelaki yang bisa menuntunku. Cukup Engkau, Ya Tuhan, dan aku. Sudah. Aku sekarang semakin yakin, bahwa hidup sendirian bersama-Mu itu lebih tidak menyakitkan, ketimbang hidup bersama manusia.

“Aku merasa berterbangan kesana kemari mengagumi semakin matang cinta yang kau persembahkan untukku, tunggu saja sayang, ketika semakin matang cintamu, ia akan berbuah manis dan segar. Masih banyak pelajaran yang harus kau sambut dariku. Tentang isi kepalamu itu. Aku tahu cara terbaik untuk mengajarkanmu.


6 Februari 2016

Wednesday, January 27, 2016

Dialog Lima


"Ya Tuhan, aku menjilat ludahku sendiri hanya karena nafsu. Aku tidak ingin mengutarakannya terlebih dulu, karena aku wanita. Tetapi, seperti yang sudah-sudah dia bisa saja tiba-tiba menikah. Kamu tahu seniorku? Yang berhijab syar'i itu. Tiba-tiba, datang kepadaku undangan, dia menikah dengan lelaki syar'i pula, yang tetiba melamarnya, dan terjadilah semudah itu pernikahan. Aku ingin tenang dan menunggu, tapi aku takut lelaki itu pun semacam itu. Bagaimana kalau sebelum aku menyatakan perasaanku, dia sudah menikah lebih dulu? Maka, aku putuskan ketakutanku. Aku bertanya kepadanya, haruskah aku mengharapkannya."

"Dan ia menjawab dengan jawaban yang membuatku semakin jatuh cinta kepadanya. 'Jangan berharap. Berharaplah kepada Allah.' Aku membenarkannya, karena seperti yang sudah kualami sendiri, resiko berhubungan dengan sesama manusia adalah kekecewaan. Semua manusia pasti akan dikecewakan atau mengecewakan manusia lainnya, jadi jangan percaya kepada manusia, percayalah kepada Allah. Dan jawabannya menjatuhkan cintaku lebih dalam kepada hatinya."

 "Aku begitu menyenangkan, bukan? Kau saja bisa menyebut jatuh cintamu itu cobaan dariku. Lucu dan cerdas benar rupanya kau itu. Itulah bentuk cintaku kepadamu. Untuk membuat hidupmu begitu seru, begitu kamu menyebutnya. Aku sudah bilang kan kalau memang dia adalah pilihanku untukmu, akan aku jaga benar dia, sayang. Kalau memang bukan, aku akan membuat jatuh cinta-jatuh cinta lainnya untukmu. Kamu hanya perlu menikmati prosesnya. Begitu mudah, bukan?
 
 "Nah, itu benar kalian berdua sepemikiran ya. Aku buat begitu untuk menjaga sementara perasaanmu kepadanya. Kamu ditolak kan kata temanmu? Tapi, tidak. Justru kalau kamu setuju dengan mulutnya yang mengatakan untuk berharap kepadaku, justru kamu diterimanya dengan lapang dada atas izinku. Sangat menyenangkan bermain denganmu, sayang. Sekarang sudah setiap hari kau memelukku. Aku merasa begitu disanjung olehmu, lima waktu sudah kau sampaikan rasa cintamu kepadaku. Aku akan membahagiakanmu, jangan sampai kau lupa atau ragu. Aku akan membantumu untuk mencintaiku setiap harinya.

"Dan apakah ini bentuk cobaan mu ya Tuhan? Tehadap mimpi dan rencana-rencanaku. Kalau memang iya, terima kasih sudah menjauhkannya dariku, agar mimpiku terjaga dan dapat berjalan seperti seharusnya."

"Lagi-lagi kau membuatku jatuh cinta kepadamu, sayangku. Kamu wanita sempurna yang hanya perlu aku untuk berbahagia. Benar sudah aku menjaga mimpimu, dan kamu tahu bahwa jatuh cintamu adalah cobaan dariku. Aku menjauhkannya darimu, untuk mendekatkan mimpimu untukmu."

"Ya Tuhan, ya Cintaku, aku sudah bisa melihat tidak ada solusi bagi sepasang insan yang saling jatuh cinta selain menikah. Apa yang kurasakan kepadanya berbeda benar, sebelumnya aku sama sekali menolak menikah, karena begitu pengalaman yang kau ajarkan kepadaku. Pernikahan dimataku hanya perhiasan yang bisa rusak, hilang, ataupun berkarat. Dengan aku hidup dan mendengar juga melihat kenyataan dari pernikahan, sesungguhnya pernikahan adalah beribadah kepadamu. Sungguh, aku menemukan arti yang sebenar-benarnya. Dengan menikah aku tidak akan berzinah, dengan menikah aku akan menimbun pahala melalui suamiku, dengan menikah raga dan jiwaku dibahagiakan oleh cinta."

"Mendengar kata-katamu itu, aku begitu tenang, pesanku tersampaikan sudah kepadamu. Jadi, tidak tega aku terus mengujimu, tapi itu untukmu juga. Agar kau menjadi semakin berharga dalam hidupmu, juga menjadi semakin menghargai hidupmu dan orang-orang disekelilingmu. Pelukanku tak akan henti-hentinya aku persembahkan untukmu. Konsistenlah dalam mencintaiku. Maka, selamanya aku untukmu."


28 Januari 2016
10.59

Thursday, January 21, 2016

Dialog Empat


“Selamat malam, Tuhan. Sekarang aku merasa menjadi orang yang sangat kuat dan yang paling berani yang ada di atas muka bumimu. Apakah kau tahu kenapa? Karena, aku sudah bisa menghadapi ketakutanku sendiri, menghadapi orang-orang yang menjahatiku dengan ketenangan diri. Dan tanpa ada rasa sakit hati ataupun marah kepadanya. Aku merasa begitu menjadi seseorang yang suci. Bolehkah aku pamer sedikit kepadamu? Supaya kamu tahu bahwa aku tidak berdiam diri dan tidak berkembang hati pula pikiranku. Dan itu semua teruntuk kamu yang aku sangat cintai. Aku persembahkan ini kebesaran hatiku kepada-Mu kecintaanku.”

“Wah, wah, kamu hebat sekali sekarang. Aku sangat bangga, sini aku peluk dulu supaya meringankan sedikit beban di hatimu, juga di pelupuk matamu yang tak hentinya berurai air mata itu. Tak apa kamu pamer kepadaku dengan niat baikmu ingin membahagiakanku. Aku senang sekali mendengarnya. Lalu, mereka bagaimana? Apa mereka meledek-ledekmu lagi? Apa mereka mengejekmu? Atau mereka memojokkanmu?”

“Ya, Tuhan, aku akan bercerita ya barang sedikit saja. Ketika, aku duduk sendiri di tempat sunyi dan kelilingi oleh mereka yang membenciku. Aku merasa menjadi orang yang paling tidak tahu malu dan orang yang menjijikan, aku merasa begitu rendah. Rasanya, aku ingin punya ilmu menghilang sekejap saja, sehingga para ia yang membenciku tidak muak melihat wajahku yang mereka tidak suka.”

“Tuhan, kau tahu kan aku paling tidak suka cari masalah, tapi kenapa sepertinya masalah ingin sekali menyatukan dirinya denganku Aku yang tidak punya salah dan tidak tahu apa masalah mereka kepadaku pun, rela untuk dihujat paksa, hanya karena aku tidak suka berkonflik. Lalu, mereka semakin menjadi-jadi dengan tanpa aku bertindak apa-apa. Aku bahkan rela untuk menundukkan wajahku di depan mereka, agar mereka tidak bertambah amarahnya hanya karena melihat wajahku muncul di hadapan. Lalu, sampailah lelahku, aku sudah tak mau lagi menundukkan kepalaku kepada orang-orang yang tak beralasan mencemoohku, aku akan menatap mata mereka baik-baik, dan tersenyum. Nikmati sajalah, toh aku menundukkan wajahku di depan mereka saja tetap membuat mereka jengkel, lalu mereka mau aku bagaimana? Mati dan masuk ke dalam kuburku sendiri? Tidakkah itu mengejekmu, ya Tuhanku? Mereka berani memperlakukan makhluk ciptaanmu sesukanya. Aku juga hidup kan, Tuhan?”

“Ya sudah, sudah. Aku sangat mengerti kedalaman hatimu itu tanpa kau jelaskan serinci itu. Kamu sudah besar rupanya, sepertinya baru kemarin kau berlarian di taman dekat rumahmu dan bersepeda berkeliling bersama teman-temanmu. Tahukah kamu? Orang hebat tidak diciptakan dari kemudahan, kesenangan, atau kenyamanan, tetapi mereka itu dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata. Jadilah, kamu tahu siapa itu dirimu? Bersyukurlah terus kepadaku, kau sudah kubangun sedemikian itu. Oh, cepat besar sekali kamu, tak lihatkah aku terharu, air mataku menetes begini karena bahagia melihatmu.”

“Ampuni segala dosa-dosa yang pernah aku lakukan, Tuhan. Aku mohon kepadamu, aku mencintaimu. Aku tak mau lagi dirundung dosa yang dulu. Terima taubatku, Tuhan. Aku merangkak ke arahmu. Aku akan menciumi pintu rumahmu. Aku akan hidup untukmu. Aku mohonkan air mata darahku terurai agar, mudah-mudahan, itu bisa membayar dosaku, meski aku tahu itu tidak akan membayar sedikitpun dosaku kepadamu. Tapi, aku mohon ya Tuhan, lakukan apapun yang kau mau kepadaku, asal maafkan aku, Tuhan. Hapuskan dosaku yang lalu, apapun itu.”

“Kau ini benar-benar yah, aku kan sudah bilang, kalau aku ini tidak akan menyedihkanmu tanpa maksud baik untukmu juga. Jadi, sudah tahu pula kau punya dosa, ya? Sini, sini, kukecup kamu, aku sudah memaafkanmu dari jauh-jauh hari, sayang. Silah mampir dulu sini di pelataran rumahku. Aku akan sajikan apa saja yang kau mau. Karena, begitu hebat sudah kau berjalan jauh untuk mencapaiku, sampai tersesat dan kehilangan arahmu, dan seperti biasa kau menangis begitu lama. Tapi, benar kan kataku, setelah tangisan-tangisanmu itu, otak dan hatimu berseru untuk kembali berjalan, meski itu kerikil batu menyisakan darah di kakimu. Tenang, jangan lagi menangis, kau sudah sampai ke pelataran rumahku. Jadi, sekarang nikmatilah dulu bebasmu itu di depan rumahku. Bermainlah dulu sampai datang bosanmu, nikmatilah dulu kehadiran kawan-kawanmu yang terkadang pasti akan merebut mainan atau menginjak kakimu, lalu menangislah kamu sebanyak-banyaknya, berbahagia dan tertawalah kamu untuk salam berpisah kepada kedua orang tuamu, dan temukanlah laki-laki baik untuk beribadah kepadaku sepanjang sisa hidupmu.”

“Setelah semua itu, ketuk pintu rumahku, ucapkan salam kepadaku, dan ketika aku buka pintu, rengkuhlah aku seperti sebahagian dari dirimu. Tatap aku dalam-dalam dan bersiaplah engkau bersamakan aku di dalam rumah tak seberapa, yang hanya ada bahagia untukmu.”


21 Januari 2016

17.08

Monday, January 18, 2016

Dialog Tiga


"Halo, Tuhan, sudah lama tak bersua, aku hanya berdoa dalam hati setiap hari, belum sempat aku hampiri dan mengobrol bersama lagi. Aku sudah semakin pekat dan padat. Aku sadari itu baru saja, ketika aku sadari apa yang sekarang aku lakoni hanya mencicipi. Kawan lama menegur mesra, di katakannya aku bukan seperti yang dulu, fisikku. Aku yang dulu, katanya, aku lebih perempuan. Tetapi, ia sudah mengerti tanpa aku beritakan, ia bilang ia mengerti ini adalah bentuk proteksi diri. Aku bilang padanya, bahwa aku yang sekarang tidak akan lama, maka tak aku sia-siakan seperdetiknya. Aku sadar aku sedang mencari di mana tempat aku bisa berpulang dan bukan bersinggah sementara. Aku masih mencoba, orang-orang mana yang tak akan pergi dan tinggal menempati hati."

"Tuhan, tahu kan, ini bukan persoalan cinta-cintaan, tetapi persoalan keresahan yang setiap malam aku coba selesaikan. Aku menenangkannya, teman yang sudah lama mengenalku, 'Percaya padaku akan datang waktunya aku tak berbau rokok dan kopi, akan datang waktunya aku kembali ke tempatku semula. Aku percaya, karena itu yang aku rencanakan, dan aku percaya, setiap rencana baik akan dihantarkan-Mu dengan suka cita."

"Ah, sudah dewasa kau rupanya. Benar kau dari dulu semasa kecil senang sekali mencoba, beruntungnya kamu mempunyai aku yang benar-benar mencintaimu. Sejatuh-jatuhnya kamu, akan selalu aku bentangkan tanganku untuk menangkapmu. Mungkin, butuh waktu untuk kau sadari itu. Lihat saja kali ini, kau sudah mampu merasakan pelukanku. Hanya saja aku tahu, kamu masih mencari tempat pulangmu. Aku akan menunggu, sampai hatimu kekal benar mengenali cintaku. Tenangkan hatimu, aku menunggu kau datang berlari ke arahku. Karena, takut terlambat waktu dan kehilanganku."

"Tuhan, sudah benar otakku menemukan-Mu, izinkan aku mengekalkan hatiku untuk-Mu. Bantu aku mengikat diriku kepada-Mu, dan tak berpindah atau bergerak kemanapun itu. Aku tahu, aku merasakannya hingga nadi bergumul mendidih, aku hanya sementara seperti ini. Karena, tanpa aku sadari, banyak sudah yang sudah aku cicipi, dan tak abadi. Berpindah dan berganti. Aku mencari yang tak pergi-pergi."

"Sayangku, tunggulah waktuku datang kepadamu. Sudah, nikmati dulu, dan sebisa mungkin, jalani dengan terus mengingatku. Jangan lupakan wajibmu kepadaku. Karena, ketika kau berjalan ke arahku, aku akan berlari ke arahmu."


18 Januari 2016
19.41


Saturday, January 16, 2016

Dialog Dua


“Ya, Tuhan sudah banyak juga yang kau beri lihat aku. Yang terpahit dari dunia, baik wanita maupun lelaki. Sampai aku berani bertanya kepada sesama manusia. ‘Apa kamu sudah pernah melihat yang terburuk terjadi dalam diri wanita?’. Terlebih itu laki-laki, aku banyak bersilaturahmi dengan anak laki-laki. Hampir sekotornya mereka aku tahu.”

“Ya. Aku sengaja lakukan itu. Ternyata, aku sadari bahwa kau lebih dari sekedar kertas kosong dari yang aku kira. Jadi, aku tak mau kau terperangkap dalam yang terpahit dari dunia. Aku hadirkan mereka yang terpahit untuk kau rasakan. Jadilah banyak air matamu yang tertuang. Maafkan aku, tapi itu untukmu juga. Tapi, lihat kan? Dengan banyak pahit yang kau alami, kau jadi menemukan cintaku. Kau jadi memelukku, dan bahkan menemukan arti-arti kitabku dalam hidupmu. Aku meyakinkanmu, bahwa kehidupan yang aku buat ini bukan hanya sekedar, tetapi penuh arti. Arti yang akhirnya kau temukan sendiri. Percayalah, dengan kau menemukannya sendiri, itu akan menjadi lebih kekal di hatimu.”

“Ya, Tuhanku, bertambah setiap hari cintaku padamu. Aku bertambah percaya bahwa tak seperdetik pun kau memalingkan wajahmu dariku. Aku bersyukur dengan semua air mata yang kau beri, itu akan memanusiakanku. Tuhan, tapi apa boleh aku mengintip sedikit apa yang kau maksudkan dengan keresahan hatiku beserta kekosongan di dalamnya.

“Jadi ini persoalan hatimu?”

“Ya, Tuhan. Aku banyak mengenal laki-laki yang kau ciptakan, beragam sifat dan tingkah laku sudah hampir di luar kepalaku. Dan tak satupun dari mereka mampu meyakinkanku bahwa mereka akan selamanya bersama sampai kau menghentikan waktuku. Semua laki-laki di mataku hanya akan membuatku sementara, dan seketika itu juga aku memalingkan wajahku dari semua laki-laki. Tapi, kau tahu belum lama aku bertemu teman lamaku. Bagaimana menurutmu? Dia bukan hanya meyakinkanku. Tetapi, tanpa ia sadari ia mengantarkanku menemuimu. Tanpa ia sadari, ia telah merubahku. Tanpa ia sadari, ia telah menegurku dan membuatku malu. Baru kali ini aku merasa tidak pantas dengan laki-laki, karena imanku. Tanpa banyak kata dari mulutnya, tanpa banyak wejangan tak perlu, atau kata sayang dan memintaku berubah, ia mampu menegurku dengan matanya. Dan aku berbincang mesra dengan kata-kata dari matanya. Sungguh indah dan bersih, Tuhan. Ini yang aku mau. Dari banyak laki-laki. Dia yang berbicara tanpa bersuara dan menyentuh imanku. Tuhan, aku mau dia di dalam hidupku. Apa boleh? Apa dia yang terbaik untukku?”

“Bagaimana ya aku menjawabnya. Sebenarnya, ini sangat rahasia dan tidak boleh aku bocorkan. Tapi, aku mencintaimu yang mencintaiku. Barangkali, ini sedikit saja yang perlu kau tahu. Bahwa, teruslah mendoakannya lewat aku. Percayalah, setiap doamu akan sampai ke dalam hatinya. Bukankah kamu tahu sendiri, aku ini selalu punya banyak kejutan. Jadi, kau nikmati saja, sayang. Tekuni ibadahmu, aku tahu kamu sedang berusaha mencapai lima waktumu, juga mengurangi rokokmu yang bau itu. Demi dia kah? Ayolah, dia manusia, kamu lupa? Bahwa, kamu sudah memutuskan untuk tidak percaya manusia dan hanya percaya padaku? Dia kuberi hati, dan aku yang memegang kendali. Lakukanlah kebaikan-kebaikan itu untukku. Rayulah aku. Percayalah, kamu merayuku sedikit saja, tersanjungku banyak. Aku yang membolak-balikan hati manusia. Apa kau lupa? Aku tahu kau sangat tahu hal itu. Kau sudah bercerita banyak padaku di setiap doamu. Aku selalu di dalam dirimu. Tenang saja, tidak akan sedikitpun terlewat dari pandanganku.”

“Ya. Tuhan. Aku mengerti. Aku akan melakukannya seperti keinginanmu, betapa cintanya aku kepadamu sampai-sampai tak sampai hati aku mengecewakanmu. Oh iya, Tuhan, boleh aku bercerita sedikit? Sepertinya laki-laki itu, berkebalikan dariku, akan sangat malu memilikiku dalam hidupnya. Aku yang begitu sederhana, dan banyak kekurangan. Ada banyak sekali wanita indah di luar sana. Dan aku tak seberapa. Aku takut mempermalukannya.”

“Terus saja dengan kamu yang merendahkan dirimu sendiri. Kamu yang semakin dalam mencintaku, adalah semakin terang cahaya di wajahmu. Jangan takutkan itu. Kamu kan sudah tahu, kalau aku akan menyampaikan kebenaran ke telinga siapapun dengan cara yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan. Kamu sudah tahu, jadi tidak usah ragu lagi.”

“Tuhan, aku akan teruskan ini. Aku akan mencintanya dengan cara yang kau ajarkan. Aku akan sabar dan ikhlas, karena sabar dan ikhlas adalah Islam, benar kan? Semoga dia benar yang aku cari selama ini. Tak disangka dia yang aku cari selama ini berdiri sangat dekat denganku. Aku begitu mengagumi kejutan-kejutan milikmu. Lagi, aku bertambah mencintaimu, Allah, Tuhanku.”


22.14

05 Januari 2016