“Ya Tuhan,
jangan biarkan aku menjadi gila, karena tak satu pun tempat aku berpegangan di
dunia. Lagi, untuk beribu kalinya aku dibuat gila oleh orang tuaku sendiri.
Darah dagingku, yang aku pertaruhkan seluruh hidupku hanya untuk mereka
berbahagia. Aku begitu ingin di peluk mereka semenjak aku mulai mengerti bahwa
tak sedikitpun mereka mencoba untuk melihat keadaan lahir dan batinku, mereka
tak peduli. Tak mereka besarkan hatiku barang sedikit.”
“Ya, aku tahu, teruskan dulu pertumpahan darah di batinmu. Aku mendengarkanmu.”
“Hal buruk
sedari kecil sudah kualami, bahkan sampai aku menikmati. Hujatan dan pukulan
bukan kekerasan tetapi kegiatan sehari-hari
mereka untuk membesarkanku. Ikat pinggang, sapu lidi, barang pecah
belah, apapun yang ada di sekitar mereka adalah perlengkapan untuk
menumbuhkanku menjadi seperti ini. Pun mereka menyerang hatiku, sumpah serapah
mengalir tanpa ragu. Ayah, Ibu, tahukah kamu apapun yang keluar dari mulutmu
itu adalah doa untukku.”
“Bahkan, aku tak
bisa mengingat masa kecilku barang sedikit. Ketika, berkumpul bersama teman
sekolah dulu, tak ada yang bisa kuingat, mereka bercerita begitu semangatnya,
tentang aku yang dulu, tentang keceriaan dan betapa aku yang begitu
menyenangkan. Aku lupa.
“Sempat terpikir
mungkin aku memiliki penyakit kehilangan memori dan aku memotivasi diri mungkin
aku hanya memiliki kesulitan untuk mengingat sesuatu. Tetapi, kalau memang
benar begitu, kenapa begitu kental ingatan tentang aku yang baru berumur empat
tahun, di kamar ayah ibuku, aku dihujami hujatan-hujatan dan doa tak baik dari
kedua orang tuaku, aku disiksa oleh ayahku sendiri dengan ikat pinggang
berkepala besi miliknya. Aku hanya meraung dan menangis. Habis air mataku,
tersisa sakit di sekujur badanku, dan aku tetap hidup.”
“Dan lagi,
setelah dua puluh satu tahun aku hidup, aku melihat kembali anak perempuan
kecil menangis tersedu di pojokkan kamarku. Hati dan badannya terkoyak. Ia yang
menangis sampai bengkak matanya dan tak bisa melihat apa-apa, karena pesakitan
dan sumpah jahat dari kedua orang tuanya. Sebentar-sebentar ia menangisi
hidupnya yang berupa kematian, sebentar-sebentar ia tertawa dengan permainan
dunia ini yang meninggalkannya sendirian.
“Anak kecil itu
tersekat nafasnya, ia memukul dadanya sekencang yang ia bisa, ia pukuli kepalanya
untuk mati, katanya. Tak segan ia memukuli badannya sendiri, ia merasa
bersalah, karena keberadaannya, kedua orangtuanya harus berdosa karena
menghujaminya pesakitan, ia selalu berdoa apapun yang dilakukan orang tuanya,
mereka akan tetap bersama-sama masuk surga, ia babak belur tak apa. Begitu
cinta miliknya kepada Ayah Ibunya.
“Tuhan? Kenapa
kau diam saja? Apa kau mendengarkanku?”
“Aku sedang menangis sayang. Aku menangis bersamamu. Ini adalah caraku membesarkanmu, maafkan aku, sungguh begitu nyeri hatiku kalau kau menceritakan kembali hidupmu sedari dulu. Kamu selalu merasa sendirian kan? Sayang, seandainya kamu tahu, aku menangis bersamamu kala itu, dan disetiap kala yang lainnya kamu menangis. Aku begitu mencintamu, sehingga tak segan cobaan bertubi menghampirimu, tetapi kamu percayakan kepadaku, itu semua aku lakukan karena alasan. Alasan yang tak bisa aku hamparkan kepadamu. Tidak boleh. Aku maha adil, dan inilah caraku. Asal kamu percaya aku. Tak pernah sedikitpun aku bermaksud menyakiti lahir dan batinmu.”
“Hanya ingin aku
dengar mereka bertanya barang sedikit tentang aku, ‘Bagaimana keadaan di
kampus? Bagaimana kabarmu? Kenapa murung mukamu? Ada masalah?’. Aku tak apa
dihujami pesakitan-pesakitan dari mereka, tetapi setidaknya ada sedikit dari
mereka yang menghargai keberadaanku. Tuhan, aku mohon, aku tidak mau menjadi
gila. Aku mau waras dan hidup. Aku melihat betapa indah kehidupan milikmu, dan
aku tidak mau kehilangannya karena aku gila.”
“Coba Tuhan
lihat, anak kecil itu sudah tumbuh besar. Banyak penderitaannya yang ia hadapi
tanpa sesiapa. Sahabat, Cinta, Keluarga, semuanya manusia yang pada dasarnya
hidup untuk mengecewakan dan dikecewakan, dan darimana lagi kepercayaan akan
bertumbuh? Dan ia yang sekarang hanya memilikimu, untuk digenggamnya,
dipeluknya, diciumnya, disandarnya, dan dicintainya.”
“Dulu, anak itu
adalah Ketua OSIS SMP dan SMA dulu, anak itu adalah PASKIBRAKA, anak itu adalah
Ranking satu selama bersekolah, Anak itu adalah Pemenang di setiap kompetisi
menari, berpidato bahasa inggris, pramuka, pembawa acara bahasa inggris. Anak
adalah Brand Ambassador Provider terkenal di Indonesia, Anak itu berjualan
kerupuk di sekolah sejak sekolah dasar untuk uang sakunya sendiri, anak itu
mengajar privat temannya yang nilainya kurang dan uangnya untuk kebutuhan
hidupnya sendiri. Anak itu berjualan headset sepuluh ribuan di sekolah menengah
pertamanya, Anak itu mengajar di tempat les sejak ia duduk di bangku sekolah
menengah pertama karena kemampuan berbahasa inggris yang ia miliki. Anak itu
mulai masuk ke dunia entertainer di bangku Sekolah Menengah Atas, ia mencari
uang dari sana untuk uang saku. Selama bersekolah ia tidak pernah meminta uang
bayaran kepada orang tuanya, ia menerima beasiswa penuh, pun sekarang setelah
ia berkuliah, ia tidak pernah merepotkan orang tuanya dengan persoalan uang.
Karena, ia sangat tahu bahwa seringkali pemicu masalah di dalam keluarganya
adalah Uang. Uang begitu menakutkannya.”
“Ia baru saja
lulus dari Universitas dengan Cum Laude dan dalam jangka waktu 3,5 tahun. Ia
memiliki banyak sekali teman. Ia terkenal ramah, berprestasi, dan menyenangkan.
Semua memujinya, semua menyanjungnya, dan itu terkecuali orang tuanya. ‘Lulus
itu bukan hal besar, bagus kalau tahu diri orang tuanya miskin, jadi bisa bantu
cari uang lebih besar kan?’ ‘Anak brengsek, sok pinter. Apa guna lo pinter,
hah? Gak ada gunanya!’ ‘Hidup lo gak bakal sukses kalau gak ada gue!’ ‘Apa
bagusnya lo lulus cepet? Apa gunanya lo cum laude?’ ‘Gantian karena lo udah
lulus, sekarang uang sekolah adik lo adalah tanggungan lo.’ ‘Sekarang lo
berhenti kemanapun selain kerja! Cari uang! Udah waktunya lo cari uang yang
banyak.’ ‘Lo itu selama ini cuma bisa nyusahin orang tua. Makanya, cepet cari
uang.’
“Oh, Tuhanku,
aku menangis menciumi bumimu, badan lemas tak bersisa sedikitpun gerak. Anak
itu baru berumur dua puluh satu tahun, dan selama ini ia selalu mencari uang
untuk menghidupi dirinya sendiri. Baru saja lega nafasnya dari sesak dunia
pendidikan, ia sudah harus menanggung seluruh nyawa di keluarganya.”
“Anak perempuan
itu menjawab, ‘Iya ayah, sabar dulu, aku tahu’, dan seketika itu wajahnya
memar, tubuhnya koyak dan paling parah adalah jiwanya. Jiwanya berkali-kali
dimatikan Ayah dan Ibunya.’
“Tentu,
menafkahi mereka adalah tujuan anak perempuan itu, tetapi Tuhan, apa perlu
kalimat-kalimat semacam itu yang keluar dari mulut ayah dan ibu. Kasihan anak
kecil yang bertumbuh besar itu Tuhan, kasihanilah ia, meskipun ia bukan anak
perempuan kecil lemah yang dulu, tetap ia orang yang sama, yang penuh sesak
hatinya dari masa lalu dan sesak sakitnya belum berakhir juga selama bertahun.
Aku iba dengan anak perempuan kecil yang duduk dipojokkan itu. Kenapa dulu kau tak buat dia mati saja?”
“Sayang, aku tidak bisa berkata apa-apa. Kamu cukup percaya aku. Suatu saat anak itu harus bertarung di perhelatan besar, anak itu akan menjadi sangat besar dan bercahaya. Untuk sekarang sentuh jiwanya, jangan sampai gila. Terus bersanding dengan mencintaiku. Dia akan merasakan kebahagiaan luar biasa, yang tak akan lagi ia cari kemana-mana.”
30 Januari 2016
10.50