Sunday, February 7, 2016

Dialog Enam


“Ya Tuhan, aku malu. Malu karena aku terlalu berani untuk mengatakan isi hatiku. Malam ini aku dibuat malu oleh orang yang aku anggap seperti kakakku sendiri, Hamzah Muhammad, seorang pemikir yang memiliki banyak potensi tetapi tetap rendah hati.

“Tak berapa lama lalu, aku bertemu teman baru yang rasa-rasanya senang sekali bisa mengenalku, aku terkenal katanya, dan ia ingin sekali mengenalku lebih dalam. Ia bercerita bahwa lelaki itu, lelaki yang sudah merobohkan benteng sudut pandang yang aku bangun sedemikian rupa tentang pernikahan. Aku yang membenci pernikahan, aku yang membenci kata cinta, terkecuali itu terhadap satu, Tuhan, itu yang aku temukan pada akhir dari perjalananku yang kau kemas sedemikian apiknya.

“Aku yang tahu bagaimana seluk beluk kebohongan dalam cinta, dan aku yang tahu bahwa cinta itu ilusi yang kita buat sendiri. Dan, karena lelaki itu, besok ia datang melamarku pun aku mau. Tuhan, maafkan aku ya, terus saja aku berkutat dengan pemikiran percintaan, tapi engkau yang maha tahu, cinta itu kau buatkan untuk umatmu menjadi kuat, dengan kejutan dalam segala bentuknya.

“Teruskan ceritamu kekasihku, aku tak memiliki celah untuk bosan mendengarkan apapun itu keluh kesahmu.”

“Engkau sangat tahu betapa akhir-akhir ini hatiku gelisah dan butuh tenang. Aku terus saja memikirkan tentang hijab di kepala. Aku begitu ingin menyentuhnya untuk menyempurnakan cintaku kepadamu. Tuhan, dengan menangis aku memohonkan ini kepadamu, tetapkan hatiku, bukan karena lelaki itu kepalaku berpusing dengan keinginan berhijab dan apa yang akan terjadi nanti setelah aku berhijab, tetapi hatiku, ia kerap kali mengingatkanku bahwa aku bisa mati kapan saja.

“Teman baru yang aku ceritakan tadi datang dan membawa cerita tentang indahnya pernikahan. Ia pun datang membawa berita bahwa dulu lelaki yang membawaku lebih dalam untuk mengenal-Mu pernah dan sangat mencintai seorang wanita berhijab syar’i dan cantik rupawan. Ia adalah anak Kiai yang cukup mahsyur. Kalau ada yang disebut wanita sempurna, mungkin ia orangnya. Hati lelaki itu pupus ketika wanita memesona itu menikahi seorang lelaki lain dan pindah keluar negeri.

“Aku malam ini menceritakan itu kepada Mas Hamzah. Dan, ia bilang, ia lupa menceritakan soal wanita yang cantik hati dan parasnya itu. Lalu, ia menambahkan malu di hatiku, ia bilang lelaki itu pernah sampai bertanya kepadanya bagaimana cara menghafal al-quran. Dan malam ini aku tahu bahwa anak perempuan itu hafal al-quran. Seketika, lemas badanku, aku beritahu Mas Hamzah, kalau saja Mas beritahu aku sebelum aku terlalu jauh mendoakan lelaki itu, mungkin aku tidak akan pernah menumbuhkan rasa kepada lelaki itu, mungkin bahkan sebelum itu bertumbuh tunas, sudah aku matikan saja benihnya.

“Itu adalah tolak ukur wanita macam apa yang ia ingini, dan jelas itu bukan aku. Dan, jelas sudah aku tak akan pernah mengisi ruang di sedikit bagian kepalanya. Dan, aku malu Mas Hamzah, berani-beraninya orang seperti aku mengharapkan keberadaannya menjadi pendamping hidupku. Aku terlihat seperti tidak tahu diri, seperti tidak tahu kasta atau apapunlah sebutannya. Bahwa, aku ini hanya sudra di matanya. Aku sekarang sangat mengerti bahwa ia layak menertawakan aku yang seperti ini, bermimpi untuk bisa memiliki hatinya, dan berdoa kepada-Mu untuk menjadikan dia seseorang yang bisa menuntunku untuk lebih dekat dengan-Mu, Ya Rabb. Malu, aku malu.

“Jadi? Apa yang kamu rasakan sekarang? Dan apa yang ingin kau lakukan? Lakukan saja, aku tidak akan pernah bisa menghalangimu. Aku hanya bisa melihatmu dan mencintaimu dengan caraku, Kekasihku.”

“Kekasihku, Ya Allah, malam ini aku sudahi doaku untuknya. Aku benar-benar hanya akan hidup bersama-Mu. Tak ada satu yang akan membuat hatiku bergerak lagi. Apapun kelak yang akan terjadi nanti, ketika aku lupa kenapa aku tidak mau lagi jatuh hati, aku mohon terus ingatkan aku, bahwa cinta itu tidak pernah ada, dan aku tidak perlu repot-repot untuk mencari mana lelaki yang bisa menuntunku. Cukup Engkau, Ya Tuhan, dan aku. Sudah. Aku sekarang semakin yakin, bahwa hidup sendirian bersama-Mu itu lebih tidak menyakitkan, ketimbang hidup bersama manusia.

“Aku merasa berterbangan kesana kemari mengagumi semakin matang cinta yang kau persembahkan untukku, tunggu saja sayang, ketika semakin matang cintamu, ia akan berbuah manis dan segar. Masih banyak pelajaran yang harus kau sambut dariku. Tentang isi kepalamu itu. Aku tahu cara terbaik untuk mengajarkanmu.


6 Februari 2016

No comments:

Post a Comment