Wednesday, January 27, 2016

Dialog Lima


"Ya Tuhan, aku menjilat ludahku sendiri hanya karena nafsu. Aku tidak ingin mengutarakannya terlebih dulu, karena aku wanita. Tetapi, seperti yang sudah-sudah dia bisa saja tiba-tiba menikah. Kamu tahu seniorku? Yang berhijab syar'i itu. Tiba-tiba, datang kepadaku undangan, dia menikah dengan lelaki syar'i pula, yang tetiba melamarnya, dan terjadilah semudah itu pernikahan. Aku ingin tenang dan menunggu, tapi aku takut lelaki itu pun semacam itu. Bagaimana kalau sebelum aku menyatakan perasaanku, dia sudah menikah lebih dulu? Maka, aku putuskan ketakutanku. Aku bertanya kepadanya, haruskah aku mengharapkannya."

"Dan ia menjawab dengan jawaban yang membuatku semakin jatuh cinta kepadanya. 'Jangan berharap. Berharaplah kepada Allah.' Aku membenarkannya, karena seperti yang sudah kualami sendiri, resiko berhubungan dengan sesama manusia adalah kekecewaan. Semua manusia pasti akan dikecewakan atau mengecewakan manusia lainnya, jadi jangan percaya kepada manusia, percayalah kepada Allah. Dan jawabannya menjatuhkan cintaku lebih dalam kepada hatinya."

 "Aku begitu menyenangkan, bukan? Kau saja bisa menyebut jatuh cintamu itu cobaan dariku. Lucu dan cerdas benar rupanya kau itu. Itulah bentuk cintaku kepadamu. Untuk membuat hidupmu begitu seru, begitu kamu menyebutnya. Aku sudah bilang kan kalau memang dia adalah pilihanku untukmu, akan aku jaga benar dia, sayang. Kalau memang bukan, aku akan membuat jatuh cinta-jatuh cinta lainnya untukmu. Kamu hanya perlu menikmati prosesnya. Begitu mudah, bukan?
 
 "Nah, itu benar kalian berdua sepemikiran ya. Aku buat begitu untuk menjaga sementara perasaanmu kepadanya. Kamu ditolak kan kata temanmu? Tapi, tidak. Justru kalau kamu setuju dengan mulutnya yang mengatakan untuk berharap kepadaku, justru kamu diterimanya dengan lapang dada atas izinku. Sangat menyenangkan bermain denganmu, sayang. Sekarang sudah setiap hari kau memelukku. Aku merasa begitu disanjung olehmu, lima waktu sudah kau sampaikan rasa cintamu kepadaku. Aku akan membahagiakanmu, jangan sampai kau lupa atau ragu. Aku akan membantumu untuk mencintaiku setiap harinya.

"Dan apakah ini bentuk cobaan mu ya Tuhan? Tehadap mimpi dan rencana-rencanaku. Kalau memang iya, terima kasih sudah menjauhkannya dariku, agar mimpiku terjaga dan dapat berjalan seperti seharusnya."

"Lagi-lagi kau membuatku jatuh cinta kepadamu, sayangku. Kamu wanita sempurna yang hanya perlu aku untuk berbahagia. Benar sudah aku menjaga mimpimu, dan kamu tahu bahwa jatuh cintamu adalah cobaan dariku. Aku menjauhkannya darimu, untuk mendekatkan mimpimu untukmu."

"Ya Tuhan, ya Cintaku, aku sudah bisa melihat tidak ada solusi bagi sepasang insan yang saling jatuh cinta selain menikah. Apa yang kurasakan kepadanya berbeda benar, sebelumnya aku sama sekali menolak menikah, karena begitu pengalaman yang kau ajarkan kepadaku. Pernikahan dimataku hanya perhiasan yang bisa rusak, hilang, ataupun berkarat. Dengan aku hidup dan mendengar juga melihat kenyataan dari pernikahan, sesungguhnya pernikahan adalah beribadah kepadamu. Sungguh, aku menemukan arti yang sebenar-benarnya. Dengan menikah aku tidak akan berzinah, dengan menikah aku akan menimbun pahala melalui suamiku, dengan menikah raga dan jiwaku dibahagiakan oleh cinta."

"Mendengar kata-katamu itu, aku begitu tenang, pesanku tersampaikan sudah kepadamu. Jadi, tidak tega aku terus mengujimu, tapi itu untukmu juga. Agar kau menjadi semakin berharga dalam hidupmu, juga menjadi semakin menghargai hidupmu dan orang-orang disekelilingmu. Pelukanku tak akan henti-hentinya aku persembahkan untukmu. Konsistenlah dalam mencintaiku. Maka, selamanya aku untukmu."


28 Januari 2016
10.59

Thursday, January 21, 2016

Dialog Empat


“Selamat malam, Tuhan. Sekarang aku merasa menjadi orang yang sangat kuat dan yang paling berani yang ada di atas muka bumimu. Apakah kau tahu kenapa? Karena, aku sudah bisa menghadapi ketakutanku sendiri, menghadapi orang-orang yang menjahatiku dengan ketenangan diri. Dan tanpa ada rasa sakit hati ataupun marah kepadanya. Aku merasa begitu menjadi seseorang yang suci. Bolehkah aku pamer sedikit kepadamu? Supaya kamu tahu bahwa aku tidak berdiam diri dan tidak berkembang hati pula pikiranku. Dan itu semua teruntuk kamu yang aku sangat cintai. Aku persembahkan ini kebesaran hatiku kepada-Mu kecintaanku.”

“Wah, wah, kamu hebat sekali sekarang. Aku sangat bangga, sini aku peluk dulu supaya meringankan sedikit beban di hatimu, juga di pelupuk matamu yang tak hentinya berurai air mata itu. Tak apa kamu pamer kepadaku dengan niat baikmu ingin membahagiakanku. Aku senang sekali mendengarnya. Lalu, mereka bagaimana? Apa mereka meledek-ledekmu lagi? Apa mereka mengejekmu? Atau mereka memojokkanmu?”

“Ya, Tuhan, aku akan bercerita ya barang sedikit saja. Ketika, aku duduk sendiri di tempat sunyi dan kelilingi oleh mereka yang membenciku. Aku merasa menjadi orang yang paling tidak tahu malu dan orang yang menjijikan, aku merasa begitu rendah. Rasanya, aku ingin punya ilmu menghilang sekejap saja, sehingga para ia yang membenciku tidak muak melihat wajahku yang mereka tidak suka.”

“Tuhan, kau tahu kan aku paling tidak suka cari masalah, tapi kenapa sepertinya masalah ingin sekali menyatukan dirinya denganku Aku yang tidak punya salah dan tidak tahu apa masalah mereka kepadaku pun, rela untuk dihujat paksa, hanya karena aku tidak suka berkonflik. Lalu, mereka semakin menjadi-jadi dengan tanpa aku bertindak apa-apa. Aku bahkan rela untuk menundukkan wajahku di depan mereka, agar mereka tidak bertambah amarahnya hanya karena melihat wajahku muncul di hadapan. Lalu, sampailah lelahku, aku sudah tak mau lagi menundukkan kepalaku kepada orang-orang yang tak beralasan mencemoohku, aku akan menatap mata mereka baik-baik, dan tersenyum. Nikmati sajalah, toh aku menundukkan wajahku di depan mereka saja tetap membuat mereka jengkel, lalu mereka mau aku bagaimana? Mati dan masuk ke dalam kuburku sendiri? Tidakkah itu mengejekmu, ya Tuhanku? Mereka berani memperlakukan makhluk ciptaanmu sesukanya. Aku juga hidup kan, Tuhan?”

“Ya sudah, sudah. Aku sangat mengerti kedalaman hatimu itu tanpa kau jelaskan serinci itu. Kamu sudah besar rupanya, sepertinya baru kemarin kau berlarian di taman dekat rumahmu dan bersepeda berkeliling bersama teman-temanmu. Tahukah kamu? Orang hebat tidak diciptakan dari kemudahan, kesenangan, atau kenyamanan, tetapi mereka itu dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata. Jadilah, kamu tahu siapa itu dirimu? Bersyukurlah terus kepadaku, kau sudah kubangun sedemikian itu. Oh, cepat besar sekali kamu, tak lihatkah aku terharu, air mataku menetes begini karena bahagia melihatmu.”

“Ampuni segala dosa-dosa yang pernah aku lakukan, Tuhan. Aku mohon kepadamu, aku mencintaimu. Aku tak mau lagi dirundung dosa yang dulu. Terima taubatku, Tuhan. Aku merangkak ke arahmu. Aku akan menciumi pintu rumahmu. Aku akan hidup untukmu. Aku mohonkan air mata darahku terurai agar, mudah-mudahan, itu bisa membayar dosaku, meski aku tahu itu tidak akan membayar sedikitpun dosaku kepadamu. Tapi, aku mohon ya Tuhan, lakukan apapun yang kau mau kepadaku, asal maafkan aku, Tuhan. Hapuskan dosaku yang lalu, apapun itu.”

“Kau ini benar-benar yah, aku kan sudah bilang, kalau aku ini tidak akan menyedihkanmu tanpa maksud baik untukmu juga. Jadi, sudah tahu pula kau punya dosa, ya? Sini, sini, kukecup kamu, aku sudah memaafkanmu dari jauh-jauh hari, sayang. Silah mampir dulu sini di pelataran rumahku. Aku akan sajikan apa saja yang kau mau. Karena, begitu hebat sudah kau berjalan jauh untuk mencapaiku, sampai tersesat dan kehilangan arahmu, dan seperti biasa kau menangis begitu lama. Tapi, benar kan kataku, setelah tangisan-tangisanmu itu, otak dan hatimu berseru untuk kembali berjalan, meski itu kerikil batu menyisakan darah di kakimu. Tenang, jangan lagi menangis, kau sudah sampai ke pelataran rumahku. Jadi, sekarang nikmatilah dulu bebasmu itu di depan rumahku. Bermainlah dulu sampai datang bosanmu, nikmatilah dulu kehadiran kawan-kawanmu yang terkadang pasti akan merebut mainan atau menginjak kakimu, lalu menangislah kamu sebanyak-banyaknya, berbahagia dan tertawalah kamu untuk salam berpisah kepada kedua orang tuamu, dan temukanlah laki-laki baik untuk beribadah kepadaku sepanjang sisa hidupmu.”

“Setelah semua itu, ketuk pintu rumahku, ucapkan salam kepadaku, dan ketika aku buka pintu, rengkuhlah aku seperti sebahagian dari dirimu. Tatap aku dalam-dalam dan bersiaplah engkau bersamakan aku di dalam rumah tak seberapa, yang hanya ada bahagia untukmu.”


21 Januari 2016

17.08

Monday, January 18, 2016

Dialog Tiga


"Halo, Tuhan, sudah lama tak bersua, aku hanya berdoa dalam hati setiap hari, belum sempat aku hampiri dan mengobrol bersama lagi. Aku sudah semakin pekat dan padat. Aku sadari itu baru saja, ketika aku sadari apa yang sekarang aku lakoni hanya mencicipi. Kawan lama menegur mesra, di katakannya aku bukan seperti yang dulu, fisikku. Aku yang dulu, katanya, aku lebih perempuan. Tetapi, ia sudah mengerti tanpa aku beritakan, ia bilang ia mengerti ini adalah bentuk proteksi diri. Aku bilang padanya, bahwa aku yang sekarang tidak akan lama, maka tak aku sia-siakan seperdetiknya. Aku sadar aku sedang mencari di mana tempat aku bisa berpulang dan bukan bersinggah sementara. Aku masih mencoba, orang-orang mana yang tak akan pergi dan tinggal menempati hati."

"Tuhan, tahu kan, ini bukan persoalan cinta-cintaan, tetapi persoalan keresahan yang setiap malam aku coba selesaikan. Aku menenangkannya, teman yang sudah lama mengenalku, 'Percaya padaku akan datang waktunya aku tak berbau rokok dan kopi, akan datang waktunya aku kembali ke tempatku semula. Aku percaya, karena itu yang aku rencanakan, dan aku percaya, setiap rencana baik akan dihantarkan-Mu dengan suka cita."

"Ah, sudah dewasa kau rupanya. Benar kau dari dulu semasa kecil senang sekali mencoba, beruntungnya kamu mempunyai aku yang benar-benar mencintaimu. Sejatuh-jatuhnya kamu, akan selalu aku bentangkan tanganku untuk menangkapmu. Mungkin, butuh waktu untuk kau sadari itu. Lihat saja kali ini, kau sudah mampu merasakan pelukanku. Hanya saja aku tahu, kamu masih mencari tempat pulangmu. Aku akan menunggu, sampai hatimu kekal benar mengenali cintaku. Tenangkan hatimu, aku menunggu kau datang berlari ke arahku. Karena, takut terlambat waktu dan kehilanganku."

"Tuhan, sudah benar otakku menemukan-Mu, izinkan aku mengekalkan hatiku untuk-Mu. Bantu aku mengikat diriku kepada-Mu, dan tak berpindah atau bergerak kemanapun itu. Aku tahu, aku merasakannya hingga nadi bergumul mendidih, aku hanya sementara seperti ini. Karena, tanpa aku sadari, banyak sudah yang sudah aku cicipi, dan tak abadi. Berpindah dan berganti. Aku mencari yang tak pergi-pergi."

"Sayangku, tunggulah waktuku datang kepadamu. Sudah, nikmati dulu, dan sebisa mungkin, jalani dengan terus mengingatku. Jangan lupakan wajibmu kepadaku. Karena, ketika kau berjalan ke arahku, aku akan berlari ke arahmu."


18 Januari 2016
19.41


Saturday, January 16, 2016

Dialog Dua


“Ya, Tuhan sudah banyak juga yang kau beri lihat aku. Yang terpahit dari dunia, baik wanita maupun lelaki. Sampai aku berani bertanya kepada sesama manusia. ‘Apa kamu sudah pernah melihat yang terburuk terjadi dalam diri wanita?’. Terlebih itu laki-laki, aku banyak bersilaturahmi dengan anak laki-laki. Hampir sekotornya mereka aku tahu.”

“Ya. Aku sengaja lakukan itu. Ternyata, aku sadari bahwa kau lebih dari sekedar kertas kosong dari yang aku kira. Jadi, aku tak mau kau terperangkap dalam yang terpahit dari dunia. Aku hadirkan mereka yang terpahit untuk kau rasakan. Jadilah banyak air matamu yang tertuang. Maafkan aku, tapi itu untukmu juga. Tapi, lihat kan? Dengan banyak pahit yang kau alami, kau jadi menemukan cintaku. Kau jadi memelukku, dan bahkan menemukan arti-arti kitabku dalam hidupmu. Aku meyakinkanmu, bahwa kehidupan yang aku buat ini bukan hanya sekedar, tetapi penuh arti. Arti yang akhirnya kau temukan sendiri. Percayalah, dengan kau menemukannya sendiri, itu akan menjadi lebih kekal di hatimu.”

“Ya, Tuhanku, bertambah setiap hari cintaku padamu. Aku bertambah percaya bahwa tak seperdetik pun kau memalingkan wajahmu dariku. Aku bersyukur dengan semua air mata yang kau beri, itu akan memanusiakanku. Tuhan, tapi apa boleh aku mengintip sedikit apa yang kau maksudkan dengan keresahan hatiku beserta kekosongan di dalamnya.

“Jadi ini persoalan hatimu?”

“Ya, Tuhan. Aku banyak mengenal laki-laki yang kau ciptakan, beragam sifat dan tingkah laku sudah hampir di luar kepalaku. Dan tak satupun dari mereka mampu meyakinkanku bahwa mereka akan selamanya bersama sampai kau menghentikan waktuku. Semua laki-laki di mataku hanya akan membuatku sementara, dan seketika itu juga aku memalingkan wajahku dari semua laki-laki. Tapi, kau tahu belum lama aku bertemu teman lamaku. Bagaimana menurutmu? Dia bukan hanya meyakinkanku. Tetapi, tanpa ia sadari ia mengantarkanku menemuimu. Tanpa ia sadari, ia telah merubahku. Tanpa ia sadari, ia telah menegurku dan membuatku malu. Baru kali ini aku merasa tidak pantas dengan laki-laki, karena imanku. Tanpa banyak kata dari mulutnya, tanpa banyak wejangan tak perlu, atau kata sayang dan memintaku berubah, ia mampu menegurku dengan matanya. Dan aku berbincang mesra dengan kata-kata dari matanya. Sungguh indah dan bersih, Tuhan. Ini yang aku mau. Dari banyak laki-laki. Dia yang berbicara tanpa bersuara dan menyentuh imanku. Tuhan, aku mau dia di dalam hidupku. Apa boleh? Apa dia yang terbaik untukku?”

“Bagaimana ya aku menjawabnya. Sebenarnya, ini sangat rahasia dan tidak boleh aku bocorkan. Tapi, aku mencintaimu yang mencintaiku. Barangkali, ini sedikit saja yang perlu kau tahu. Bahwa, teruslah mendoakannya lewat aku. Percayalah, setiap doamu akan sampai ke dalam hatinya. Bukankah kamu tahu sendiri, aku ini selalu punya banyak kejutan. Jadi, kau nikmati saja, sayang. Tekuni ibadahmu, aku tahu kamu sedang berusaha mencapai lima waktumu, juga mengurangi rokokmu yang bau itu. Demi dia kah? Ayolah, dia manusia, kamu lupa? Bahwa, kamu sudah memutuskan untuk tidak percaya manusia dan hanya percaya padaku? Dia kuberi hati, dan aku yang memegang kendali. Lakukanlah kebaikan-kebaikan itu untukku. Rayulah aku. Percayalah, kamu merayuku sedikit saja, tersanjungku banyak. Aku yang membolak-balikan hati manusia. Apa kau lupa? Aku tahu kau sangat tahu hal itu. Kau sudah bercerita banyak padaku di setiap doamu. Aku selalu di dalam dirimu. Tenang saja, tidak akan sedikitpun terlewat dari pandanganku.”

“Ya. Tuhan. Aku mengerti. Aku akan melakukannya seperti keinginanmu, betapa cintanya aku kepadamu sampai-sampai tak sampai hati aku mengecewakanmu. Oh iya, Tuhan, boleh aku bercerita sedikit? Sepertinya laki-laki itu, berkebalikan dariku, akan sangat malu memilikiku dalam hidupnya. Aku yang begitu sederhana, dan banyak kekurangan. Ada banyak sekali wanita indah di luar sana. Dan aku tak seberapa. Aku takut mempermalukannya.”

“Terus saja dengan kamu yang merendahkan dirimu sendiri. Kamu yang semakin dalam mencintaku, adalah semakin terang cahaya di wajahmu. Jangan takutkan itu. Kamu kan sudah tahu, kalau aku akan menyampaikan kebenaran ke telinga siapapun dengan cara yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan. Kamu sudah tahu, jadi tidak usah ragu lagi.”

“Tuhan, aku akan teruskan ini. Aku akan mencintanya dengan cara yang kau ajarkan. Aku akan sabar dan ikhlas, karena sabar dan ikhlas adalah Islam, benar kan? Semoga dia benar yang aku cari selama ini. Tak disangka dia yang aku cari selama ini berdiri sangat dekat denganku. Aku begitu mengagumi kejutan-kejutan milikmu. Lagi, aku bertambah mencintaimu, Allah, Tuhanku.”


22.14

05 Januari 2016

Dialog Satu



Hari ini aku sependapat dengan Tuhan bahwa jarak yang dia berikan padaku dengan Lelaki itu adalah karena belum waktunya. Tuhan menyentilku, dia bilang,


“Kamu bilang mau mewujudkan mimpi dulu? Bukankah karena itu kamu memilih untuk tidak berhijab dan mendosakan bapakmu? Kamu kan yang memohon padaku untuk menjaga bapakmu agar tidak mati dulu dan menanggung dosamu tidak berhijab? Aku sudah berikanmu jalan meraih keinginanmu, jadi fokuskan dirimu dan raih dulu inginmu. Baru nanti aku akan antarkan dia kehadapanmu dalam keadaan dan waktu yang indah, yang tidak akan kamu sangka-sangkakan. Aku juga selalu ingin mendengar pujianmu kepadaku. Aku sering mendengarnya akhir-akhir ini. Kamu mengatakan cinta kepadaku dan berdoa lima waktu kepadaku, diiringi kebaikan-kebaikan yang kau persembahkan untukku. Aku tidak mau itu berhenti.”


“Iya, Tuhan terima kasih sudah menegurku. Aku tidak akan pernah berhenti bersyukur terlahir sebagai Aku dalam keadaan Islam dan insya Allah sampai nanti aku bertemu denganmu. Aku pun bersyukur kau berikan kesempatan untuk menyentuh cintamu. Aku bersyukur dipelukmu dan dihembuskan hidup darimu. Aku mencintaimu sampai ke aliran darahku. Aku berdoa, semoga kelak apabila datang kembali cobaan, aku akan terus mengingatmu dan ingat untuk mensyukuri nikmat yang kau berikan. Tolong,  jangan jauhkan aku darimu, terus dekap aku, genggam tanganku, dan tuntun langkahku, kalau kau sudi, kecup juga keningku, Tuhan.”


“Baru sekali ini aku merasakan cinta yang bersih, ikhlas, dan sabar. Aku yakin ini yang sering disebut orang cinta atas nama-Mu, ya Rabb. Aku tidak bernafsu memilikinya, aku justru ikhlas untuk melepasnya agar kelak aku bisa bersamanya ketika aku sudah pantas bersanding dengannya kelak. Aku mendoakannya dalam setiap sujudku, agar kau menjagakan keimanannya selama kami berbatas waktu dan tempat. Aku jadi lebih dekat denganmmu, dengan cara menjalankan seluruh kewajibanku kepada-Mu. Aku mengumpulkan ilmu dan prestasi sembari menatap fotonya, membayangkan kelak aku harus mendidik anak darinya yang kelak akan menjadi kebahagiaan untuk kami berdua ketika tua. Aku membenahi kekurangan diriku yang menjauhkanku dari kodratku sebagai wanita untuknya kelak bisa merasakan cinta wanita yang sebenar-benarnya.”


“Tuhan, aku yakin dia adalah jodohku yang akan kau antarkan kepadaku di saat yang indah dan tepat waktunya. Aku percaya ia akan menjaga keimanannya sampai waktu kami bertemu tiba. Jaga dia ya Allah sampai benar-benar tiba waktunya aku bersamanya. Aku akan memperbaiki diri dan pula menjaga keimananku kepadamu. Karena, aku ingin bersamanya. Aku tahu kau sedang memberikan aku waktu untuk bisa selaras dengannya. Maka dari itu, sekarang kau menjadikanku berjarak dengannya. Kau mau aku membenahi diriku, dan kau memberiku waktu itu membahagiakan kedua orang tuaku."

"Karena, aku sadar, aku adalah seorang wanita. Suatu kelak aku akan pergi meninggalkan kedua orang tuaku. Betapa sakit hati mereka ketika tiba saatnya nanti aku menjadi milik seorang lelaki. Aku. Seorang anak perempuan yang mereka jaga benar kehidupannya, mereka yang berani mempertaruhkan nyawa demi seorang aku yang kelak akan meninggalkan mereka. Aku bahkan tak sanggup membayangkan dengan apa aku membalas mereka. Bahkan, seluruh samudera, gunung dan segumpal darahku pun tak sanggup untuk membalas cinta mereka. Maka, ya Allah, ketika datang saatnya nanti aku dipersunting laki-laki. Jadikanlah, laki-laki itu orang yang baik, karena aku tak mau cinta kedua orang tuaku selama ini terbuang sia-sia karena aku dipindah tangankan kepada lelaki yang tidak bertanggung jawab dan tidak mencintaimu. Doaku sangat banyak ya, Tuhan? Maaf, banyak sekali permintaanku. Tetapi, ini semua doaku tertuju untuk kedua orang tuaku. Untuk meminta maaf atas sakit hati yang kelak akan mereka rasakan ketika ijab kabul dilontarkan lelaki kepadaku. Tuhan, aku mencintamu. Jadi, tolong cintailah kedua orang tuaku. Sayangi mereka, bahagiakan mereka, dan hindarkan mereka dari sakit hati yang disebabkan olehku. Amin ya Rabb.”


4 Januari 2016