Saturday, January 16, 2016

Dialog Satu



Hari ini aku sependapat dengan Tuhan bahwa jarak yang dia berikan padaku dengan Lelaki itu adalah karena belum waktunya. Tuhan menyentilku, dia bilang,


“Kamu bilang mau mewujudkan mimpi dulu? Bukankah karena itu kamu memilih untuk tidak berhijab dan mendosakan bapakmu? Kamu kan yang memohon padaku untuk menjaga bapakmu agar tidak mati dulu dan menanggung dosamu tidak berhijab? Aku sudah berikanmu jalan meraih keinginanmu, jadi fokuskan dirimu dan raih dulu inginmu. Baru nanti aku akan antarkan dia kehadapanmu dalam keadaan dan waktu yang indah, yang tidak akan kamu sangka-sangkakan. Aku juga selalu ingin mendengar pujianmu kepadaku. Aku sering mendengarnya akhir-akhir ini. Kamu mengatakan cinta kepadaku dan berdoa lima waktu kepadaku, diiringi kebaikan-kebaikan yang kau persembahkan untukku. Aku tidak mau itu berhenti.”


“Iya, Tuhan terima kasih sudah menegurku. Aku tidak akan pernah berhenti bersyukur terlahir sebagai Aku dalam keadaan Islam dan insya Allah sampai nanti aku bertemu denganmu. Aku pun bersyukur kau berikan kesempatan untuk menyentuh cintamu. Aku bersyukur dipelukmu dan dihembuskan hidup darimu. Aku mencintaimu sampai ke aliran darahku. Aku berdoa, semoga kelak apabila datang kembali cobaan, aku akan terus mengingatmu dan ingat untuk mensyukuri nikmat yang kau berikan. Tolong,  jangan jauhkan aku darimu, terus dekap aku, genggam tanganku, dan tuntun langkahku, kalau kau sudi, kecup juga keningku, Tuhan.”


“Baru sekali ini aku merasakan cinta yang bersih, ikhlas, dan sabar. Aku yakin ini yang sering disebut orang cinta atas nama-Mu, ya Rabb. Aku tidak bernafsu memilikinya, aku justru ikhlas untuk melepasnya agar kelak aku bisa bersamanya ketika aku sudah pantas bersanding dengannya kelak. Aku mendoakannya dalam setiap sujudku, agar kau menjagakan keimanannya selama kami berbatas waktu dan tempat. Aku jadi lebih dekat denganmmu, dengan cara menjalankan seluruh kewajibanku kepada-Mu. Aku mengumpulkan ilmu dan prestasi sembari menatap fotonya, membayangkan kelak aku harus mendidik anak darinya yang kelak akan menjadi kebahagiaan untuk kami berdua ketika tua. Aku membenahi kekurangan diriku yang menjauhkanku dari kodratku sebagai wanita untuknya kelak bisa merasakan cinta wanita yang sebenar-benarnya.”


“Tuhan, aku yakin dia adalah jodohku yang akan kau antarkan kepadaku di saat yang indah dan tepat waktunya. Aku percaya ia akan menjaga keimanannya sampai waktu kami bertemu tiba. Jaga dia ya Allah sampai benar-benar tiba waktunya aku bersamanya. Aku akan memperbaiki diri dan pula menjaga keimananku kepadamu. Karena, aku ingin bersamanya. Aku tahu kau sedang memberikan aku waktu untuk bisa selaras dengannya. Maka dari itu, sekarang kau menjadikanku berjarak dengannya. Kau mau aku membenahi diriku, dan kau memberiku waktu itu membahagiakan kedua orang tuaku."

"Karena, aku sadar, aku adalah seorang wanita. Suatu kelak aku akan pergi meninggalkan kedua orang tuaku. Betapa sakit hati mereka ketika tiba saatnya nanti aku menjadi milik seorang lelaki. Aku. Seorang anak perempuan yang mereka jaga benar kehidupannya, mereka yang berani mempertaruhkan nyawa demi seorang aku yang kelak akan meninggalkan mereka. Aku bahkan tak sanggup membayangkan dengan apa aku membalas mereka. Bahkan, seluruh samudera, gunung dan segumpal darahku pun tak sanggup untuk membalas cinta mereka. Maka, ya Allah, ketika datang saatnya nanti aku dipersunting laki-laki. Jadikanlah, laki-laki itu orang yang baik, karena aku tak mau cinta kedua orang tuaku selama ini terbuang sia-sia karena aku dipindah tangankan kepada lelaki yang tidak bertanggung jawab dan tidak mencintaimu. Doaku sangat banyak ya, Tuhan? Maaf, banyak sekali permintaanku. Tetapi, ini semua doaku tertuju untuk kedua orang tuaku. Untuk meminta maaf atas sakit hati yang kelak akan mereka rasakan ketika ijab kabul dilontarkan lelaki kepadaku. Tuhan, aku mencintamu. Jadi, tolong cintailah kedua orang tuaku. Sayangi mereka, bahagiakan mereka, dan hindarkan mereka dari sakit hati yang disebabkan olehku. Amin ya Rabb.”


4 Januari 2016


No comments:

Post a Comment