Hari
ini aku sependapat dengan Tuhan bahwa jarak yang dia berikan padaku dengan
Lelaki itu adalah karena belum waktunya. Tuhan menyentilku, dia bilang,
“Kamu bilang mau mewujudkan mimpi dulu? Bukankah karena itu kamu memilih untuk tidak berhijab dan mendosakan bapakmu? Kamu kan yang memohon padaku untuk menjaga bapakmu agar tidak mati dulu dan menanggung dosamu tidak berhijab? Aku sudah berikanmu jalan meraih keinginanmu, jadi fokuskan dirimu dan raih dulu inginmu. Baru nanti aku akan antarkan dia kehadapanmu dalam keadaan dan waktu yang indah, yang tidak akan kamu sangka-sangkakan. Aku juga selalu ingin mendengar pujianmu kepadaku. Aku sering mendengarnya akhir-akhir ini. Kamu mengatakan cinta kepadaku dan berdoa lima waktu kepadaku, diiringi kebaikan-kebaikan yang kau persembahkan untukku. Aku tidak mau itu berhenti.”
“Iya,
Tuhan terima kasih sudah menegurku. Aku tidak akan pernah berhenti bersyukur
terlahir sebagai Aku dalam keadaan Islam dan insya Allah sampai nanti aku
bertemu denganmu. Aku pun bersyukur kau berikan kesempatan untuk menyentuh
cintamu. Aku bersyukur dipelukmu dan dihembuskan hidup darimu. Aku mencintaimu
sampai ke aliran darahku. Aku berdoa, semoga kelak apabila datang kembali
cobaan, aku akan terus mengingatmu dan ingat untuk mensyukuri nikmat yang kau
berikan. Tolong, jangan jauhkan aku darimu, terus dekap aku, genggam
tanganku, dan tuntun langkahku, kalau kau sudi, kecup juga keningku, Tuhan.”
“Baru
sekali ini aku merasakan cinta yang bersih, ikhlas, dan sabar. Aku yakin ini
yang sering disebut orang cinta atas nama-Mu, ya Rabb. Aku tidak bernafsu
memilikinya, aku justru ikhlas untuk melepasnya agar kelak aku bisa bersamanya
ketika aku sudah pantas bersanding dengannya kelak. Aku mendoakannya dalam
setiap sujudku, agar kau menjagakan keimanannya selama kami berbatas waktu dan
tempat. Aku jadi lebih dekat denganmmu, dengan cara menjalankan seluruh
kewajibanku kepada-Mu. Aku mengumpulkan ilmu dan prestasi sembari menatap
fotonya, membayangkan kelak aku harus mendidik anak darinya yang kelak akan
menjadi kebahagiaan untuk kami berdua ketika tua. Aku membenahi kekurangan
diriku yang menjauhkanku dari kodratku sebagai wanita untuknya kelak bisa
merasakan cinta wanita yang sebenar-benarnya.”
“Tuhan,
aku yakin dia adalah jodohku yang akan kau antarkan kepadaku di saat yang indah
dan tepat waktunya. Aku percaya ia akan menjaga keimanannya sampai waktu kami
bertemu tiba. Jaga dia ya Allah sampai benar-benar tiba waktunya aku
bersamanya. Aku akan memperbaiki diri dan pula menjaga keimananku kepadamu.
Karena, aku ingin bersamanya. Aku tahu kau sedang memberikan aku waktu untuk
bisa selaras dengannya. Maka dari itu, sekarang kau menjadikanku berjarak
dengannya. Kau mau aku membenahi diriku, dan kau memberiku waktu itu
membahagiakan kedua orang tuaku."
"Karena, aku sadar, aku adalah seorang wanita. Suatu
kelak aku akan pergi meninggalkan kedua orang tuaku. Betapa sakit hati mereka
ketika tiba saatnya nanti aku menjadi milik seorang lelaki. Aku. Seorang anak
perempuan yang mereka jaga benar kehidupannya, mereka yang berani
mempertaruhkan nyawa demi seorang aku yang kelak akan meninggalkan mereka. Aku
bahkan tak sanggup membayangkan dengan apa aku membalas mereka. Bahkan, seluruh
samudera, gunung dan segumpal darahku pun tak sanggup untuk membalas cinta
mereka. Maka, ya Allah, ketika datang saatnya nanti aku dipersunting laki-laki.
Jadikanlah, laki-laki itu orang yang baik, karena aku tak mau cinta kedua orang
tuaku selama ini terbuang sia-sia karena aku dipindah tangankan kepada lelaki
yang tidak bertanggung jawab dan tidak mencintaimu. Doaku sangat banyak ya, Tuhan?
Maaf, banyak sekali permintaanku. Tetapi, ini semua doaku tertuju untuk kedua
orang tuaku. Untuk meminta maaf atas sakit hati yang kelak akan mereka rasakan
ketika ijab kabul dilontarkan lelaki kepadaku. Tuhan, aku mencintamu. Jadi,
tolong cintailah kedua orang tuaku. Sayangi mereka, bahagiakan mereka, dan
hindarkan mereka dari sakit hati yang disebabkan olehku. Amin ya Rabb.”
4 Januari 2016
No comments:
Post a Comment