Monday, January 18, 2016

Dialog Tiga


"Halo, Tuhan, sudah lama tak bersua, aku hanya berdoa dalam hati setiap hari, belum sempat aku hampiri dan mengobrol bersama lagi. Aku sudah semakin pekat dan padat. Aku sadari itu baru saja, ketika aku sadari apa yang sekarang aku lakoni hanya mencicipi. Kawan lama menegur mesra, di katakannya aku bukan seperti yang dulu, fisikku. Aku yang dulu, katanya, aku lebih perempuan. Tetapi, ia sudah mengerti tanpa aku beritakan, ia bilang ia mengerti ini adalah bentuk proteksi diri. Aku bilang padanya, bahwa aku yang sekarang tidak akan lama, maka tak aku sia-siakan seperdetiknya. Aku sadar aku sedang mencari di mana tempat aku bisa berpulang dan bukan bersinggah sementara. Aku masih mencoba, orang-orang mana yang tak akan pergi dan tinggal menempati hati."

"Tuhan, tahu kan, ini bukan persoalan cinta-cintaan, tetapi persoalan keresahan yang setiap malam aku coba selesaikan. Aku menenangkannya, teman yang sudah lama mengenalku, 'Percaya padaku akan datang waktunya aku tak berbau rokok dan kopi, akan datang waktunya aku kembali ke tempatku semula. Aku percaya, karena itu yang aku rencanakan, dan aku percaya, setiap rencana baik akan dihantarkan-Mu dengan suka cita."

"Ah, sudah dewasa kau rupanya. Benar kau dari dulu semasa kecil senang sekali mencoba, beruntungnya kamu mempunyai aku yang benar-benar mencintaimu. Sejatuh-jatuhnya kamu, akan selalu aku bentangkan tanganku untuk menangkapmu. Mungkin, butuh waktu untuk kau sadari itu. Lihat saja kali ini, kau sudah mampu merasakan pelukanku. Hanya saja aku tahu, kamu masih mencari tempat pulangmu. Aku akan menunggu, sampai hatimu kekal benar mengenali cintaku. Tenangkan hatimu, aku menunggu kau datang berlari ke arahku. Karena, takut terlambat waktu dan kehilanganku."

"Tuhan, sudah benar otakku menemukan-Mu, izinkan aku mengekalkan hatiku untuk-Mu. Bantu aku mengikat diriku kepada-Mu, dan tak berpindah atau bergerak kemanapun itu. Aku tahu, aku merasakannya hingga nadi bergumul mendidih, aku hanya sementara seperti ini. Karena, tanpa aku sadari, banyak sudah yang sudah aku cicipi, dan tak abadi. Berpindah dan berganti. Aku mencari yang tak pergi-pergi."

"Sayangku, tunggulah waktuku datang kepadamu. Sudah, nikmati dulu, dan sebisa mungkin, jalani dengan terus mengingatku. Jangan lupakan wajibmu kepadaku. Karena, ketika kau berjalan ke arahku, aku akan berlari ke arahmu."


18 Januari 2016
19.41


No comments:

Post a Comment