Friday, February 12, 2016

Dialog Tujuh



“Aku baru saja melihat foto-fotonya di media sosial. Aku tersenyum-senyum malu sendiri. Senang rasanya bisa melihat apa yang dia lakukan selama hidupnya, meskipun tidak sepenuhnya. Senang rasanya bisa melihat apa saja yang sudah ia lewati selama ini yang menjadikannya sesosok lelaki yang aku kagumi. Tetapi, semakin aku sadar bahwa aku tidak pantas dan tidak akan mungkin bisa bersamanya.
“Hidupnya dipenuhi dengan para sahabat yang terlihat begitu tidak bermasalah. Hidupnya penuh dengan keramaian. Juga, ia dikelilingi teman-teman yang menuntunnya kepada agama. Sedangkan aku? Sahabat-sahabatku yang baik hatinya bepergian kesana kemari, tinggalah aku sendiri, dan tersisa teman-teman yang sering disebut buruk oleh orang-orang. Aku berteman dengan mereka dan namaku pun menjadi mengikuti keburukan.
“Tetapi, Tuhan, kenapa tidak ada sedikitpun hatiku menyesal dengan jalan hidupku? Aku justru bersyukur. Ketika, anak perempuan lain tidak kau perlihatkan muka dunia yang sebenarnya, Engkau ceburkan aku ke dalam selokan. Bukan untuk aku tetap tinggal di sana, tetapi untuk mengetahui dan merasakan, betapa pun bau dan kotornya di sana tetap ada nyawa yang bertahan hidup di dalamnya. Ikan-ikan yang tersesat, atau mungkin makhluk-makhluk kecil yang tak terlihat mata telanjang. Lalu, setelah kau berikan aku kesempatan untuk belajar dari kotor dan gelapnya selokan, kau tarik aku kembali ke permukaan, kau bersihkan lumpur dan bau di badan. Tak kau biarkan aku tersesat dan tinggal di dalam hal-hal buruk yang tinggal di dalamnya. Di sana aku menemukan Cinta-Mu.”
“Dari tempat kotor itu aku belajar bagaimana jalannya kehidupan yang sebenar-benarnya. Aku belajar memperjuangkan hidupku sebagaimana manusia dan perempuan. Aku belajar membedakan mana hidup yang layak dan tidak, belajar kebaikan dan keberanian, belajar bagaimana aku memenangkan diriku. Aku belajar bahwa manusia itu hanya sekedar makhluk, yang sebaik-baiknya mereka, akan pergi dengan caranya masing-masing, dan pada akhirnya, kau membayar kesabaran dan keikhlasanku dengan pertemuanku dengan cinta-Mu yang kekal dan tidak akan pergi-pergi.”
“Dan tak menyesal aku sudah berbau dan berlumpur. Aku berterima kasih dan menjadi ketakutan. Seandainya, aku tidak kau dorong masuk ke dalam tempat gelap, kotor, dan berbau itu, apa aku akan menemukan-Mu? Oh sayangku, aku takut tidak menemukan-Mu. Aku takut terlambat mencintai-Mu.”
“Dan lagi, kau sirami terus hatimu itu, cantik. Pengalaman-pengalaman itukah menurutmu yang menjadikanmu menemukan aku? Bukan, sayangku. Ingatkah kamu sedari kecil senang sekali duduk di masjid atau di depan televisi hanya untuk mendengarkan khotbah-khotbah lelaki atau perempuan tua yang disebut Ustad atau Ustadzah? Aku masih ingat betul kau sedari kecil senang mendengarkan nasihat-nasihat yang aku tulis dengan sempurna di dalam al-quran. Itu semua tertanam dan berakar di bawah alam sadarmu. Kau yang begitu kecil mengimani semua tuturku dalam al-quran. Sampai kau beranjak remaja dan dewasa, kau sangat jarang mendengarkan tuturku lagi, tapi bukan berarti semua yang kau imani sejak kecil menjadi hilang. Ia berada di alam bawah sadarmu, ia menjelma separuh isi hati dan pikiranmu, merubah sudut pandangmu, dan menjaga dirimu, itu Iman-mu.”
“Dan, hanya sedikit yang aku lakukan untukmu, sayangku. Aku sangat mengenal watakmu itu, kau harus merasakannya dulu, entah itu kebaikan atau keburukan, baru kau bisa belajar. Jadi, aku sempurnakan perjalanan imanmu. Setelah kau mendengar tutur-tutur indah dan sempurna milikku tentang jalannya kehidupan, yang mungkin sudah hampir terlupa olehmu karena terpaut waktu yang cukup lama ia mengendap sedari kamu kecil hingga detik ini, aku sandingkan ia dengan pengalaman hidup milikmu. Dan, disanalah Imanmu menampak dan begitu terang kau lihat.”
“Seakan-akan, kau sadari bukan? Kalau apa yang kau dengar dulu adalah benar adanya di dalam kehidupan.”
“Ya Allah ya Tuhan semesta alam, kau yang begitu indah dan menyenangkan begitu memesonaku, tak ada bentuk atau wujudmu, tetapi kenapa aku bisa begitu membayangkan Engkau yang begitu indah dan bercahaya, begitu hangat dan penuh cinta, dan yang paling penting kau yang tahu segala-galanya di jagad raya ini.”
“Oh iya, Tuhan, aku juga melihat beberapa foto lelaki itu sedang beraktivitas. Ia berorganisasi dan di dalam beberapa komunitas tentunya. Ia dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang menutup auratnya, tidak mungkin satu dari mereka tidak ada yang hatinya pantas bersanding dengan hati baik milik lelaki itu. Aku? Ampun, aku hanya wanita perokok yang berteman dengan banyak laki-laki, hidup apabila malam, dan aku sendirian. Wanita yang tidak normal, tidak seperti wanita kebanyakan. Buah pikir dan stigma yang aku bangun sebenarnya adalah itu, keabnormalan aku sebagai wanita.
“Tetapi, aku buang jauh hal itu, karena aku yang selalu mudah untuk jatuh dan sakit sendiri dengan hasil pemikiranku. Aku ganti pemikiran itu dengan hal realistis yang ada. Bahwa tidak semua wanita di dunia itu, termasuk para wanita berkerudung itu, mengalami pahit dan getirnya jalan hidupku untuk menemukan-Mu. Aku percaya semua orang memiliki titik pertemuan mereka dengan-Mu yang berbeda-beda, dan mungkin karena aku adalah milikmu yang sangat spesial, kau hadiahi aku pengetahuan tentang bagaimana terbentuknya sebuah gelap. Itu juga mengapa terkadang aku merasa menjadi anak perempuan yang terlalu cepat dewasa, tidak seperti anak perempuan lainnya. Aku merasa berbeda. Mungkin, ada rencana-Mu yang begitu besar untukku dan tak mampu mata seorang hamba-Mu ini melihatnya. Jadi, aku pun tidak menyesal, kau pilih untuk menjadi seorang wanita yang berbeda dari yang lainnya. Baik itu dari pemikiranku ataupun hatiku.”
“Oh, cantikmu memang berbeda sayangku. Percayakah kamu, bahwa setiap hal di dunia ini memiliki harganya masing-masing, sudah kau temukan itu kan di beberapa waktu perjalananmu? Ketika, aku berikanmu sebuah perjuangan yang lebih besar dari pada wanita lainnya, akan ada harga yang akan aku berikan untukmu untuk perjalananmu, tergantung kepada bagaimana kamu menjalani perjuanganmu. Apabila, kau berjuang dengan hati yang bersih dan tanpa melakukan hal-hal tercela dan berdosa, harga yang mahal akan aku berikan kepadamu. Dan, begitu pula sebaliknya, cintaku. Ah, kau sudah tahu ya? Maaf ya aku mengulang-ulang ucapanku, padahal kau sudah jelas mengerti itu.”
“Ya, Tuhanku, aku sudah mengerti itu. Terima kasih kembali mengingatkan aku. Foto-foto yang kulihat tak hanya sekedar itu, kekasihku. Aku baru sadar kedua laki-laki yang pernah dekat denganku adalah teman dekatnya. Aduh, apalagi ini. Ada banyak foto yang menggangguku. Dan, termasuk itu. Sudahlah, Tuhan. Lagipula, aku memang tidak pantas bersanding dengannya apapun itu alasannya.”
“Yang aku pelajari dari banyak gambar perjalanan hidupnya. Kami memiliki sejarah perjalanan yang berbeda untuk bisa bertemu dengan cinta-Mu. Dan, adalah wajar, ia, yang memiliki cara berbeda untuk bertemu dengan-Mu, tidak menerima keadaanku yang terlihat oleh manusia adalah buruk, dan aku masa bodoh. Aku tidak peduli lagi dengan mata manusia, aku hanya peduli kepada penglihatanmu, aku tidak mau buruk di matamu. Aku menemukanmu dengan caraku dan aku membanggakan itu, karena tak seorang pun mengerti. Sebuah hubungan percintaan yang hanya aku dan Engkau yang tahu bagaimana kita bertemu. Itu saja.”
     “Romantis. Cinta. Aku akan terus mencintaimu, itu yang harus kamu ingat sepanjang sisa perjalanan hidupmu. Jangan kau lupa denganku. Aku akan terus ada bersamamu. Jadi, percayakan saja hidupmu padaku. Aku bukan manusia. Atau makhluk lainnya. Aku adalah Tuhanmu, memiliki cinta kepadamu dan tak akan pernah bisa terbayangkan olehmu. Cinta yang tak bisa kau bandingkan dengan tingginya gunung, dalamnya lautan, atau luasnya semesta raya.”


9 Januari 2016

1 comment: